Archive | marriage RSS feed for this section

Open Relationship ~ solusi untuk keutuhan suatu hubungan ?

6 Sep

Beberapa waktu yang lalu saya kopdar sama teman lama yang masih single, awalnya saya pikir biasanya dia curcol mengenai status jomblonya yang belum berubah, ternyata kali ini tidak…..ternyata dia membawa kabar bagus, ada seseorang yang sudah “serius” – menurutnya, teman saya ini sangat excited, berbinar-binar dia bercerita kehebatan teman barunya itu, seorang pilot, masih single bule lagi, dari amrik pula ! lalu teman saya mulai bertanya-tanya, apakah si bule ini bisa menjadi kandidat future husband-nya, apakah si bule mau convert to islam, bagaimana nanti kalau sudah merit, berapa anak2nya, bla blablaa………..

“Jadi kalian sudah seberapa jauh ?” saya mencoba mengukur hubungannya, “Ya, baru saling kirim2 pesan di inbox fesbuk, kadang2 bisa tiap hari, kadang2 bisa sekali seminggu, dia kan pilot, makanya sibuk banget….” saya langsung terdiam…..busyet dah, baru kirim2 pesan via fesbuk, teman saya ini sudah membayangkan kehidupan berumah tangga dengan si bule yang gak jelas juntrungannya ? teman saya yang pintar ini pasti paham bahwa di internet semua orang bisa menjadi siapapun, apakah dia tahu latar belakang si bule ini ? jangan2 bule ini sudah berumur atau mungkin sudah berkeluarga !

Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu…..sudah cukup lama sih, waktu lagi zamannya mirc (waduh ! jadul banget ya ? kalo gak tau mirc itu apa, tanya ama mbah gugel aja deh ) saya pun ikut2an terkena demam mirc, hampir saban hari saya duduk manis di depan komputer dan sibuk chat dengan beberapa orang sekaligus, bahkan ada diantara mereka yang jadi sahabat dekat dengan saya, seperti TTM gitu deh, hihiii :D , padahal pada saat itu juga saya sedang pacaran sama si doi, tapi mirc jalan terus…..bahkan menjadi semacam pengalihan jika saya sedang suntuk dengan si dia, ;) , saya melakukan itu karena saya paham betul bahwa teman2 di dunia maya tidak akan lebih dari itu, hanya sekedar sharing dan berbagi lelucon saja, saya tidak perlu tahu apa status teman saya itu, dan tidak berharap lebih dari sekedar chatting di mirc.

Di zaman jadul itu saja saya bisa menikmati hubungan-tanpa-status-yang-tidak-berbahaya sambil tetap terus setia dengan si dia, nah, bagaimana dengan hari ini ? dimana semua orang setiap saat terkoneksi dengan internet, kemana-mana selalu membawa smart phone, maka peluang untuk mendapatkan beberapa hubungan rahasia itu semakin mudah.

Banyak yang mempertanyakan apakah saat ini hubungan monogami sudah usang ?

Mungkin bagi newlywed atau yang lagi indehoy mengernyitkan mata membaca ini, ya betul saja, bagi yang baru menikah atau sedang mabuk cinta, pasti belum bisa membayangkan bagaimana rasanya setelah melalui beberapa tahun pernikahan yang melelahkan dan menjemukan, dan sebetulnya infatuation atau rasa cinta itu tidak akan bertahan lama, reaksi kimiawinya hanya ada di tubuh paling lama 4 tahun…..dan setelah itu ? pasangan yang tadinya nampak sempurna dan luarbiasa, lambat laun berubah menjadi sosok yang membosankan atau menyebalkan.

Lalu saat jenuh itu melanda, apakah boleh kita beralih kepada yang lain ? 

Saya mencoba untuk tidak mengaitkan topik ini pada masalah agama, karena pada kenyataannya selama ini saya melihat malah banyak hukum2 agama pada pernikahan hanya digunakan untuk mengontrol atau menghukum pasangan yang tidak patuh, sementara si orang yang menerapkan hukum itu justru melanggarnya sendiri !  Contoh ; seorang istri menerapkan aturan yang ketat kepada suaminya, bahwa dia harus pulang cepat ke rumah, membantu urusan dapur dan tetek bengeknya, semua kegiatannya dikontrol oleh sang istri……dan sementara itu si istri bebas kelayapan kemana saja dengan siapa saja…….. :(

Contoh diatas jelas menunjukkan ketidakadilan seorang istri ! (hadeuh…..) harusnya kalau dia bebas begitu, kenapa dia tidak juga membebaskan suaminya ? biar sekaligus sama2 salah (lhaa…… :P )

Belum lama, dunia holywood dihebohkan oleh berita perceraian Will Smith – Jada, saya sangat heran, kenapa ? karena pasangan ini sudah tekenal dengan konsep “Open Marriage” dimana mereka berdua memperbolehkan saling memiliki kekasih walaupun masih terikat dalam pernikahan…… yang ada diotak saya ; jadi bahkan yang menggunakan konsep Open Marriage ini saja masih terbuka peluang untuk terjadinya perceraian ? lalu, bagaimana yang masih menganut konsep lama ; monogami ? betapa sulitnya mempertahankan konsep itu……

Setiap pasangan adalah unik dan tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya, jika ada pasangan yang mungkin merasa nyaman dengan konsep itu, ya terserah saja sih…..tanggung resikonya sendiri ya, tapi jika merasa lebih aman dengan konsep “pernikahan tertutup” maka tentu saja harus lebih sabar dan tabah ya……jangan asal menyuruh pasangan harus setia selalu, sementara sendirinya kalau ketemu sama yang kinclong langsung main samber aja…..wahihi :P

Jatuh cinta itu gampang…..yang teberatnya adalah mempertahankannya……. yaiyalah

Mungkin bagi yang sedang tergoda atau yang akan tergoda, sebelum melangkah ada baiknya membayangkan ini ; bagaimana jika pasangannya melakukan hal yang sama ? jika tidak ingin hal itu terjadi, lebih baik urungkan saja niat ingin bermain dengan yang lain, semua hal diawali dengan keisengan…..dan tanpa disadari jadi kebablasan dan timbul penyesalan, sebuah hubungan yang sudah ternodai tidak akan bisa sembuh seperti dulu lagi, jadi sebelum semua menjadi bubur….lebih baik niat itu diurungkan saja, atau batasi diri hanya sampai menjadi teman biasa saja dengan yang lainnya.

Saya pernah membaca satu kalimat yang cespleng ; sebetulnya seorang yang selalu mencari banyak kekasih sejatinya dialah yang melajang selamanya, jiwanya kosong, karena dia terus berharap mendapatkan kebahagiaan dari banyaknya kekasih………

Lalu bagaimana dengan kabar teman saya yang sedang dimabuk cinta oleh pilot amrik itu ? sampai saat ini saya belum dengar kabar darinya :|

hope everything is fine

kenapa saya menghubungkan cerita teman saya itu dengan topik open marriage ya ? hmmm…….

Demi sebuah tradisi

28 Aug

Mudik adalah suatu momen yang penting ketika hari raya ini, tentu saja semua orang yang merayakannya menantikan saat2 berkumpul dengan keluarga di kampung halaman tercinta, terutama bagi mereka yang tinggal diperantauan.

Namun sebetulnya dalam ajaran agama kita, tidak ada kewajiban mudik saat hari raya ini, ya sebetulnya kita sudah tahu hal itu sih, namun dengan dalih ; “Gak enak sama keluarga” maka kita sering memaksakan diri untuk mudik, demi menjaga muka dihadapan keluarga tercinta dikampung halaman.

Bagi yang belum merasakan bagaimana luarbiasa meletihkannya mudik itu, bayangkan saja, berjuta-juta manusia dari kota2 besar berbondong-bondong pada waktu yang sama bermigrasi dari kota ke kampung halamannya, dan tentu saja kita paham bahwa infrastruktur dinegri ini masih kacau balau, banyak jalan yang rusak, airport yang tidak memadai (gak ada radarnyaaa…!! oh my goat!!) , kapal feri yang jumlahnya masih sedikit, dan sebagainya…….

Bagi yang masih single or jomblo (hihihiii…….ups! ) tentu saja mudik bukan beban…..jika dibandingkan dengan yang sudah berkeluarga dan yang sedang memiliki anak2 yang masih kecil, bayangkan saja bagaimana rasanya memindahkan satu keluarga (minus para ajudan, simbak2, babysitter2, mas2 supir, kang sayur, pak satpam, dkk) dari kota ke suatu tempat terpencil yang disebut kampung halaman………..

Jika saja kita bisa menolak untuk mudik, tentu bisa lebih menghemat pengorbanan energi, waktu dan biaya……jika saja bisa……

Waktu sahur tadi saya membaca sebuah artikel tentang seorang bayi 2 bulan yang meninggal saat sedang mudik, oh Tuhan……baru 2 bulan ? dan si bayi itu sedang sakit diare, astaga ! saya gak tahu apa orang tuanya paham bahwa bayi berusia 2 bulan sangat rentan terhadap berbagaimacam penyakit, dan penyakit sepele ~ bagi kita, seperti diare ini sebetulnya sangat fatal bagi bayi yang masih kecil itu.

Beberapa tahun yang lalu, salah seorang asisten saya hendak mudik sambil membawa anaknya yang masih bayi dengan motor ! saya langsung menentang keras, yang saya pikirkan bagaimana kesehatan si bayi itu setelah menempuh perjalanan berjam-jam dengan motor, namun ternyata si mbak tidak bisa menolak ajakan mudik oleh suaminya ; “Saya gak enak, apa kata orang2 dikampung nanti kalau saya gak mudik ? gak enak juga sama keluarga suami…..” dan si suaminya itu tidak mau membelikan istrinya tiket bus, demi berhemat beberapa puluh ribu rupiah, mereka nekat pulang kampung naik motor dengan membawa bayinya itu.  Walhasil, setelah pulkam, si bayi sakit2an, dan kehilangan banyak berat badannya.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya sekitar 9 tahun yang lalu….saya pun dalam kondisi yang kurang lebih sama dengan simbak, dimana saya tidak dapat menolak ajakan mudik, dengan alasan “Gak enak sama keluarga” itu, pada saat itu anak saya yang pertama baru berusia beberapa bulan (kurang dari setahun) , sedangkan kampung halaman yang dituju harus ditempuh paling cepat ; dua jam penerbangan plus perjalanan seharian penuh dengan kendaraan !

Singkatnya, selama perjalanan ~ mulai dari awal sampai akhir, anak saya menderita, berbagaimacam penyakit ; flu, pilek, batuk, muntah, mencret, demam…….nauzubillahminzalik……satu penyakit saja sudah bikin saya panik ! ini anak saya menderita semuanya ! dan saat itu kami sedang berada dinegri antah-berantah, dan karena sedang lebaran season ; tidak ada rumah sakit yang buka, semua apotik tutup, dan kami harus menggedor pintu rumah seorang dokter dan memohon supaya beliau mau mengobati anak saya……saya tidak bisa berhenti menangis saat itu, menyesali mengapa saya tidak berusaha lebih egois sedikit, menolak mudik demi kebaikan anak saya juga.

Seharusnya hari raya menjadi momen yang menyenangkan bagi setiap anggota keluarga, dimana setiap anggotanya merasakan kehangatan dalam kebersamaan tersebut. namun jika semuanya dilakukan karena keterpaksaan, demi sebuah tradisi, maka apakah kita bisa mendapatkan makna dari hari raya tersebut ?

Saya berharap, setidaknya pemerintah bisa lebih tegas terhadap para pemudik yang membawa bayinya, kalau bisa dilarang saja, tapi tentunya pemerintah tidak mungkin bisa melakukan hal itu jika para pemudik itu sendiri yang bersikeras untuk membawa bayinya ikut mudik.

Jika saja para bayi2 yang lucu2 itu sudah bisa berbicara, apakah mereka mau ikutan mudik juga ?

Semoga Berkah dan Rahmat-Nya dilimpahkan kepada kita semua

Happy Ied Mubarak…………..

sumber :

http://news.okezone.com/read/2011/08/27/338/497240/bayi-meninggal-karena-dipaksa-mudik-saat-sakit

ketika “Jam Biologis” berbunyi…

13 Mar

Dipertengahan 30-an ini, saya tidak akan mengakui bahwa saya lebih bijak dibandingkan dengan saat saya 20-an, namun adakalanya saya memaksakan diri untuk lebih baik hati saat menjumpai beberapa teman yang masih single ataupun yang belum dikaruniai anak.

Saya sama sekali tidak setuju jika ada yang memberi mereka label “kurang beruntung” atau “sudah nasibnya begitu“, karena jika saya melihat dari point of view mereka, sangat sulit untuk tetap berusaha bersikap biasa saja dan tetap terus menjalani hidup mereka.

“Saya pengen banget punya anak….tapi cari calon papanya kok hari ini susah banget…”

“Gak usah ditanya deh gimana ortu bawel nanya melulu soal cucu, gue udah pusing deh….”

Atau yang lebih gak enak lagi ; “Loe udah beruntung udah punya anak sih…”

Pada usia pertengahan 20an, berbondong-bondong kaum wanita mengejar target menikahnya, dan sebagian tetap fokus pada karir atau meneruskan pendidikannya, lalu setelah melewati usia 30an, tekanan dari lingkungan untuk mengejar target nikah semakin tinggi, sebetulnya tekanan lebih besar dari pihak ortu, ini harus kita pahami juga, mereka para orang tua kita pun juga menerima tekanan dari lingkungan mereka, bayangkan di setiap pertemuan keluarga, ortu kita senantiasa dibombardir dengan pertanyaan “Kapan nih bawa cucunya ?”

Di negri tercinta ini Gap antara generasi ortu dan kita cukup besar, sementara kita sudah memandang bahwa “pernikahan” dan “punya anak” adalah PILIHAN, bukan kewajiban lagi, namun tidak demikian dengan generasi ortu kita, mungkin ada beberapa yang beruntung memiliki ortu yang lebih moderat, namun tekanan dari lingkungan ortu akan tetap selalu ada.

Kepada para sahabat saya yang masih single atau yang belum dikaruniai anak, saya ingin sekali berteriak kepada mereka; “kami sebetulnya sangat jelaous sama kamu !, kalian tidak terikat dan bisa ngapain aja seenaknya !” tentu ini gampang saja saya ucapkan karena saya pun juga tidak merasakan bagaimana menjadi single, mungkin jika saya single dan tidak punya anak, saya akan takut berjalan sendirian ke mal, karena di mal penuh dengan para pasangan yang bermesraan sambil membawa anak-anaknya….dan jika melihat gambaran itu, saya lebih baik mengurung diri dikamar, meratapi nasib saya yang malang.

Menikah dan punya anak bukanlah tujuan hidup, IMO

Then, why the hell I ended up marriage ? I dunno…….

Tapi satu hal yang saya yakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menyelesaikan permasalahan dalam hidup, justru akan menambah masalah-masalah yang lainnya, seketika setelah saya menikah, saya langsung terikat dengan suami, dan saat saya melahirkan anak yang pertama, saya sama sekali tidak bisa berbuat apapun.

Mungkin salah saya adalah saya mempunyai anak terlalu cepat, secara mental saya belum siap, padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik2nya, pengalaman mengasuh adik saya dan berbagai pengetahuan tentang parenting dari buku dan majalah….semua tidak menjadikan saya expert dalam hal parenting, nonsense ! parenting is not a theory, you have to do it by yourself !

Seketika sehabis melahirkan anak yang pertama, saya menyadari hal itu, namun sudah terlambat, dan parahnya lagi saya mendapat serangan “Baby Blues“, dan sialnya saya sama sekali tidak siap secara mental untuk hal yang menyakitkan ini, dan hasilnya selama 3 hari pertama saya hanya bisa menangis dan hampir tidak bisa menyentuh anak saya sendiri, dan entah mengapa pengalaman ini menjadi trauma yang mendalam bagi saya, hingga saya berusaha keras untuk mencari akar permasalahannya, dan syukurnya saya bisa menciptakan kondisi yang nyaman untuk saya sendiri saat saya melahirkan anak yang kedua.

Mungkin bagi orang awam, kontak batin antara orang tua dan anak terjadi dengan sendirinya, ini adalah anggapan yang sangat salah !

Anda tidak langsung serta merta memiliki hubungan batin dengan anak kandung anda sendiri hanya karena anda mengandung dan melahirkannya, hal itu terbentuk setelah bertahun-tahun anda menjadi orang tua dan mengasuhnya dengan penuh perhatian, it takes a lot of time to build the connection between your offspring, and if you miss it just for a while, then you have to start it over again.

Dan lalu jika menikah dan punya anak adalah pilihan, mengapa kita masih merasa perlu melakukannya ?

Saya pun juga senantiasa mempertanyakan hal ini, Apa tujuan sebetulnya kita memiliki keluarga ? untuk kebutuhan biologis saja ? untuk status sosial ? kemudian saya teringat pada buku parenting yang sudah jadul, intinya adalah sesungguhnya orang tua-lah yang lebih membutuhkan anak-anaknya, bukan anak yang butuh orang tua.

Kita-lah yang memulai suatu hubungan, dan berlanjut hingga melahirkan anak-anak kita, ya saya setuju sekali bahwa kita yang lebih memerlukan anak, karena jauh didalam sana, setiap insan manusia memerlukan sosok dalam hidupnya yang dapat membuatnya merasa memiliki suatu koneksi yang lebih dalam, dan hubungan kekeluargaan yang bisa memenuhi hal itu.

All and All, kepada para pasutri yang sudah mapan, saya harap sesekali luangkan waktu hang out bersama dengan para lajangers, mereka sesungguhnya juga perlu perhatian kita, hanya saja mereka takut mengganggu waktu weekend kita, jadi kita-lah yang memulai untuk meluangkan waktu dengan mereka lagi, tentunya setelah kita meluangkan waktu bersama keluarga tercinta.

Dan tentu saja kepada para lajangers atau jomblo, bisa memetik pelajaran dari para pasutri bahwa kehidupan rumah tangga itu sangat sulit dan tidak selalu kelihatan seindah luarnya, karena apa yang tampak dari luar belum tentu sebagus apa yang didalamnya.

Satu hal lagi, entah mengapa para lajangers yang disekitar saya ada beberapa yang rada paranoid dengan jam biologisnya, hingga menyebabkan beberapa diantara mereka “menebar pesona” atau flirting kesegala arah, ini mungkin jika masih dalam batas-batas norma masih tidak masalah, namun kadang kala kebiasaan ini menjadi habit yang akan sulit dihilangkan ketika sang lajangers menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, dan ini bisa merugikannya sendiri kelak.  Saya harap para lajanger lebih mawas diri dan lebih bersikap ‘cool’ sampai suatu saat jodohnya datang dengan sendirinya.

Dengan saling memahami seperti ini, maka kita harapkan “gap” antara para pasutri mapan dan lajangers akan terjembatani, juga kepada para lajangers dan jomblo, semoga tetap bisa senantiasa optimis dan terus positif dalam pencarian jodohnya masing-masing……….amin :)

a beautiful wedding….with kids (?)

22 Feb

sarah vowed to PPernikahan merupakan momen yang sakral bagi setiap insan, dan puncak momen itu adalah saat mengucapkan wedding vow, namun bagaimana jika dalam perkawinan tersebut sudah ada anak-anak dari perkawinan yang sebelumnya ? berikut adalah contoh perkawinan yang indah, menurut saya, karena mereka dilibatkan dalam upacara seremonial perkawinan itu, bahkan orang tua barunya mengucapkan janji untuk mereka, wow…

Jackie, menikahi Ed yang sudah memiliki putri, P, dari perkawinan sebelumnya, Ed memiliki full custody terhadap P, selama 6 bulan sebelum menikah Jackie sudah full-time mengasuh P, dan saat upacara pernikahan Jackie dan Ed, Jackie mengucapkan janjinya kepada P :

She (P) stood by the maid of honor during the ceremony. After Ed and I said our vows to each other, I had P come up next to us, and I got down to her height and said my vows to her:

“I promise to always love you, take care of you, support you in all you do, and to always be the best mom I can be. I love you.” They were simple, but I got so choked up, they couldn’t really have been longer.

We also had a symbol for her instead of a ring. It was a gold cross necklace that I got for my first communion when I was little. My maid of honor held onto it in her bouquet and I put it around P’s neck after my vows.

http://mysanfranciscobudgetwedding.wordpress.com/

I just couldn’t hold my tears read this….. :)

Satu keraguan terbesar dari orang tua yang akan menikah kembali adalah ; apakah pasangannya bisa menjalin hubungan dengan anak-anak dari pernikahan sebelumnya ? terutama apabila pasangan belum pernah menikah dan belum pernah memiliki anak sebelumnya, namun sebetulnya parenting adalah merupakan suatu proses yang melalui berbagai tahapan, dan setiap hari kita sebagai orang tua selalu mempelajari hal-hal baru mengenai parenting, jadi semua itu adalah merupakan proses pembelajaran bagi setiap insan.

berikut adalah artikel tentang seorang single mom dengan 2 kids yang menikah dengan single guy (sarah dan tony) , saat wedding ceremony, tony mengucapkan wedding vow kepada kedua anak sarah ;

Bean and Bug.  I want you to know that I dearly love your mother. I also love both of you very much.  Today we are celebrating our life together as a family.  This does not mean that your dad is less important or doesn’t count, and it doesn’t mean that I am trying to replace him.  But it does mean that together your mom and I have created a home for you where you will always be welcome and loved.  Our home is a place where you can share your feelings and your dreams and your wishes. I promise to be fair and to be honest, to be available for you, to earn your love, respect and true friendship.  I will cherish my life with all of you.”

http://mysanfranciscobudgetwedding.wordpress.com/2011/02/08/ceremony-in-progress/

I’m speechless….. :)

 

PS :

I’m very grateful that Sarah, had granted me permission to share this lovely story in my blog, FYI, I’m a newbie in blogging, so at first I forgot to ask about permission for sharing this, but gladly, sarah understood it, and she let my put this picture and links.

so I learned my lesson, if I want to do this again, I should ask permission from the owner. and I hope everyone else also do this too

Thank you so much, Sarah…. I really appreciate it

Happily ever after ~ idaman setiap istri bawel

6 Dec

“kenapa ya sekarang suami saya sudah gak perhatian lagi ?”

“Sudah sering dia lupa sama hari jadian kami, hari perkawinan dan bahkan ultah saya !”

“Suami saya kalau di rumah kerjaannya nonton melulu, tidak pernah ngebantuin, malah bikin berantakan rumah terus.”

“Saya sudah gak pernah dipuji lagi sama suami, payah deh punya laki gak romantis!”

Begitulah komentar yang sering saya dengar dari berbagaimacam istri dari lingkungan saya, tidak perlu saya beritahu siapa saja mereka itu, namun yang pasti istri-istri bawel seperti ini jumlahnya sangat banyak dan tidak tertutup kemungkinan saya bisa termasuk dalam spesies ini, bahkan anda yang sedang membaca artikel ini pun bisa saja merupakan istri bawel juga.

mengapa saya kali ini hanya menyorot tentang masalah istri bawel ? hai ! apakah lelaki tidak ada yang bawel juga ? ya, mereka banyak yang nakal lho, suka selingkuh dan ada juga yang main kasar dengan istrinya. namun maaf kali ini saya membatasi topik ini khusus untuk para istri-istri bawel.

Begini, pada zaman dahulu kala, Tuhan menciptakan Adam dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan kekurangannya itu dilengkapi oleh Hawa, namun ternyata Tuhan memberikan limpahan emosi berlebihan dalam tubuh Hawa, emosi tersebut yang membedakan pola pikir Hawa dengan Adam, hingga saat ini sangat bijak bagi kaum adam untuk menjauh dari kaum hawa yang sedang dalam siklus menstruasinya setidaknya dalam radius 10 km.

Emosi ada kontradiktif dari akal sehat, dan hal ini yang mendominasi isi otak perempuan, saya sangat setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa rasio antara akal sehat dan emosi pada perempuan adalah 1 : 9

Hingga emosi mendominasi seluruh aspek dalam kehidupan seorang wanita, dan tentu saja seorang istri, marilah kita perhatikan jika seorang wanita akan menikah dengan pria pujaannya, tentu saja dalam benaknya masa depannya akan penuh dengan warna-warni kebahagiaan karena saat ini sudah ada lelaki idamannya yang akan senantiasa membahagiakannya selalu. namun dengan berjalannya waktu, sang suami kembali disibukkan dengan urusan perkerjaannya, dan mulai melupakan (sedikit) istrinya, sementara itu istrinya mulai berubah secara fisik, baik karena faktor usia maupun akibat dari hamil dan menyusui.

Namun otak perempuan tidak akan pernah lupa, bahkan ia akan selalu ingat akan hal-hal kecil, seperti misalnya kapan pertama kali berciuman, kapan pertama kali bertemu, dan sebagainya. sementara itu otak lelaki justru kebalikannya ! saat lelaki jatuh cinta, justru bagian otak yang bertugas untuk menyimpan memori tidak berfungsi ! dan ini akibatnya sangat fatal ! si istri yang menuntut suami selalu ingat akan hal-hal kecil dan harus selalu romantis setiap saat, sementara itu si suami sudah lupa dan tidak romantis lagi karena saat itu sudah disibukkan oleh pekerjaannya.

Hal ini diperparah oleh kebiasaan perempuan yang suka curcol kemana-mana, jadi jangan heran jika seorang istri bahkan bisa curhat tentang suaminya ke tukang sayur yang tiap hari datang ke rumahnya (waduh!)  jadi kemana saja si istri bawel itu curcol ? itu sangat sulit untuk dilacak, apabila seorang istri sudah sering mengeluhkan tentang kebiasaan buruk sang suami kepada suaminya sendiri, maka sudah dapat dipastikan orang-orang disekelilingnya sudah mendengarkan curhatnya, jadi secara teori sang suami baru mendengar curcol langsung dari si istri bawel itu setelah si istri bawel curhat ke semua orang sekampung.

Mengapa jarang sekali istri yang merasa bahagia dalam perkawinannya ?

di luar dari kasus saya, sebetulnya tentu saja inti permasalahannya adalah si istri bawel tersebut, karena apapun, Apapun - yang dilakukan oleh suaminya tidak akan pernah memuaskan dan membahagiakan sang istri bawel. mereka selalu menuntut lebih, dan jika suatu saat suaminya ditimpa musibah, mereka akan meratapi kemalangan dirinya dan menyangkal semua perbuatan baik yang pernah dilakukan suaminya terhadapnya.

intinya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa apabila kita mengandalkan orang lain ~ bahkan pasangan kita sendiri, untuk menghibur kita dan menjadi sumber kebahagiaan kita, maka tentu saja satu-satunya hal yang kita dapat adalah kekecewaan, karena sebaik-baiknya orang toh tidak ada yang sempurna, Tuhan Maha Adil telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, oleh karena itu sangat salah jika menuntut mahluk tidak sempurna sebagai Duta kebahagiaanmu.

Dalam agama saya, di kitab Al-Quran, kita telah diperintahkan untuk tidak melihat kepada kekurangan pasangan kita, karena mungkin saja ada banyak kelebihan yang tidak tampak selama ini oleh kita. Jangan lengah, jika anda selalu mengeluh tentang kekurangan pasangan anda, cobalah merenung dan bayangkan apabila pasangan anda sudah tiada dan anda terpaksa hidup sendiri, maka sanggupkah anda melaluinya tanpa dia disamping anda ?

The superior man is satisfied and composed; the mean man is always full of distress ~ confucius

then there’s no such thing as happily ever after, hal tersebut hanya ada dalam dongeng zaman dulu saja, kebahagiaan yang hakiki adalah berasal dari dalam diri sendiri, namun diperlukan hati yang tulus, suci, rendah diri dan ikhlas untuk dapat menemukannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 838 other followers