Pejalan Kaki dan Trotoar

18 Mar

Dari berbagai pengguna jalan ; Mobil pribadi, angkutan umum, pengemudi sepeda motor, dan pejalan kaki…. Siapakah yang menempati kasta paling rendah di lalu lintas ibu kota ini ? Siapa yang paling dirampas hak-haknya oleh pengguna jalan yang lainnya ?

Pejalan kaki belakangan ini semakin terampas hak-haknya, dengan semakin bertambahnya jumlah pengendara motor namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan fasilitas dan prasarana jalan, tidak heran semakin hari semakin sulit bagi pejalan kaki untuk berjalan dengan aman di trotoar.

Saya pun sebetulnya sesekali menjadi pejalan kaki juga, ada saat tertentu saya masih bisa menikmati menjadi pejalan kaki sambil naik angkutan umum, baik bis, angkot maupun kereta commuter line, sebetulnya menjadi pejalan kaki yang tentu saja menjadi pengguna angkutan umum jauh lebih enak dibandingkan jika kita menggunakan mobil pribadi, tidak usah repot-repot mencari parkir, dan juga bisa tidur saat sedang macet (asal jangan kebablasan aja, sampai kelewatan dari tempat tujuan, hehee….pengalaman sih :mrgreen: )

Kira-kira dua bulan yang lalu, saya dan anak saya berlibur ke daerah perkotaan dimana ada museum Fatahillah, museum Bank Indonesia, museum Bank Mandiri dan juga Stasiun Kota. Kami berangkat menggunakan bus transjakarta yang berhenti tepat ditengah-tengah daerah tua itu, dan dari situ kami berkeliling dari satu museum ke museum lainnya.

Tentu saja kami sangat menikmati suasana daerah tua tersebut, hanya saja saat kami sedang berjalan ditrotoar entah sudah berapa kali saya dan anak saya hampir disamber oleh pengemudi motor yang naik ke atas trotoar, bahkan sering kami diklakson oleh mereka ! ya ampun ! jadi rupanya trotoar itu bukan untuk pejalan kaki ya ? tapi untuk pengemudi motor, dan pangkalan ojek dan juga pedagang kaki lima.

Dan selain itu, ketika kami sedang lengah karena diklakson oleh pengendara motor, hampir saja anak saya jatuh ke dalam lubang saluran air yang menganga terbuka lebar di tengah trotoar itu, ternyata lubang itu tutupnya sudah hilang dan dibiarkan terbuka begitu saja, memberikan peluang kepada para pejalan kaki untuk jatuh ke dalamnya ! :(

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kejadian Xenia maut yang merenggut nyawa 9 pejalan kaki yang sedang berada di trotoar, itu hanya salah satu contoh kejadian tragis yang menimpa pejalan kaki.

Dan juga baru-baru ini ada satu aksi hebat dari seorang ibu yang tidak diketahui namanya, dengan cueknya dia menghalau pengendara motor yang naik ke atas trotoar, sedangkan polisi saja sudah nyerah dan membiarkan para pengendara motor berlalu-lalang di atas trotoar.

Iseng saya mencari tahu apakah sebetulnya pejalan kaki itu sudah dilindungi hak-haknya dalam undang-undang ? ternyata sudah ada dalam UU no.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, di pasal 131 :

  1. Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.
  2. Pejalan Kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.

Pasal 275 :

  1. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Harusnya berdasarkan undang-undang diatas, sudah cukup menjabarkan hak-hak bagi para pejalan kaki, berarti jika hak-hak tersebut tidak sanggup dipenuhi oleh pemerintah maka ini sudah termasuk dalam pelanggaran hukum dan hak asasi manusia . Para pengemudi motor dan pedagang kaki lima yang merebut tempat trotoar dari pejalan kaki pun juga bisa dianggap telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia , namun menurut saya para pengendara motor dan pedagang kaki lima tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran HAM ini, karena seharusnya pemerintah yang berkewajiban menyediakan prasarana jalan yang memadai hingga trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki tidak diserobot oleh pihak lainnya.

Kabar baiknya saat ini sudah ada niat dari Pemrov DKI untuk merevitalisasi fungsi trotoar, walaupun tetap harus dipertanyakan seberapa besar keseriusannya.  Kabar lucunya Dinas Pertamanan DKI pun ingin ikut membantu dengan mendekorasi dan menghias trotoar…….hhmmm….ini penting gak ya ? apa dengan trotoar yang penuh dengan lampu-lampu hias, dan pot-pot taman yang besar bisa menghibur para pejalan kaki ? apa sungguh bisa memberikan kenyamanan ? ya silakan dijawab sendiri deh :mrgreen:

Memang kita yang tinggal di Ibu Kota ini harus terus banyak belajar bersabar, terutama sekali jika kita menjalani hidup sebagai kasta terendah di jalanan Ibu Kota yang kejam……dan semoga semua jasa-jasa dan kesabaran kita suatu saat akan dihargai oleh pemerintah ini :D

About these ads

One Response to “Pejalan Kaki dan Trotoar”

Trackbacks/Pingbacks

  1. pejalan kaki dan trotoar | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award - March 22, 2012

    [...] Alamat Blog Share this:EmailPrintFacebook [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 797 other followers

%d bloggers like this: