One thing I won’t be famous for ; route was hard! ~ Lisa Randall
Menurut bapak psikoanalisa ; Sigmud Freud, semua hal yang kita lakukan salah satunya adalah karena dasarkan oleh motivasi untuk menjadi yang terpenting.…..dan demi untuk menjadi yang terpenting, kita melakukan apa saja ; belajar, bekerja, bersosialisasi, berkeluarga, dll…..mungkin ini adalah salah satu naluri dasar yang ada disetiap insan untuk membuktikan eksistensinya dimuka bumi ini.
Dan kebutuhan untuk menjadi yang terpenting ini semakin menjadi-jadi setelah sosial media semakin berkembang, terutama FB dan twitter……..di Indonesia, negri yang berkembang tidak mampu tapi bangkrut pun segan, sosial media seakan-akan menjadi pelipur lara yang ampuh, di sosial media seseorang yang nothing bisa menjadi something……
On internet, no one knows you’re a Dog…..so true !
Saya suka mengobservasi berbagaimacam orang di sosial media ini, dan ini adalah motivasi awal saya menggunakan beberapa sosial media ini, namun setelah beberapa lama, ternyata ada beberapa tokoh yang dapat berubah atau lebih tepatnya kelihatan watak aslinya di sosial media. Dua hari yang lalu, seorang penulis terkenal, Alberthine Endah dengan akun twitternya ; @AlberthieneE , entah mengapa membuat drama bahwa dia telah di-”bully” di sosial media bernama twitter ini hingga ia menjadi sangat sedih ( dan ia bahkan sempat menghardik beberapa temannya ditwitter juga….waduh…..)
Sebetulnya sebelum kejadian ini saya sempat salut terhadap beliau, menurut saya sejauh ini twit2nya cukup berbobot dan kontennya sangat bagus dan konsisten, kemudian tiba-tiba saja beliau memberi satu komentar yang kelihatannya dia tidak memiliki cukup pengetahuan tentang hal itu, dan hingga satu twitnya itu menggiring seluruh timeline memberikan reaksi yang negatif terhadapnya.
Sebetulnya mbak alberthiene gak perlu sama sekali jadi rempong gitu, sampai nutup akun segala sih…..cukup minta maaf doang kok….lha ini kok sampe jadi curcol kemana-mana, trus sampe jadi merasa bahwa dia telah dibully di sosial media ? kemarin malam tokoh ICT, @donnybu ; menjelaskan teory “cyberbully” dimana apa yang terjadi di sosial media seperti “psikologi kerumunan” dimana bully di sosial media ini dilakukan secara kolektif, hingga para pelakunya tidak merasa bersalah lagi, dan korbannya ya tentu saja sangat merasa sedih karena di-bully rame2 seperti itu.
Mbak Alberthiene mungkin tidak akan dibully jika dia bukan siapa2, namun dia adalah seorang public figure, yang followersnya ribuan, hingga satu twit itu menjadi setitik noda baginya, sebelumnya juga sudah banyak kok public figure yang salah ngetwit, dan mereka cepat bereaksi ; minta maaf atau jika tidak sanggup cukup dengan berhenti ngetwit untuk beberapa saat……. lagian kita semua manusia kok, dan membuat kesalahan itu wajar, asalkan kita mau mengakuinya dan ikhlas menerima kesalahan itu.
Trus kenapa harus mendrama gitu sih ? ya mungkin karena beliau egonya sudah terpupuk di ranah perkicauan ini, twitter bisa menjadi media yang berbahaya bagi kesehatan jiwa, saya sudah sering melihat beberapa tokoh yang terjebak oleh “Me-Tweet” atau meretweet puji2an, hingga mereka jadi besar kepala dan merasa bagai terbang di langit ke tujuh. dan saat sedang diatas seperti ini, bagaimana bisa seseorang menerima banjiran kritikan seperti itu ? ya akhirnya tindakan mendrama dan menutup akun jadi pelipur lara yang jitu !
Dan bagaimana dengan saya sendiri ? jujur saja saya pun juga sering melakukan kesalahan yang kira2 mirip seperti diatas, dan jika saya menuruti ego saya, maka saya tidak akan pernah mau mengakui kesalahan2 itu, tapi untung saja masih ada yang mau mengkritik saya, masih ada satu-dua akun anonim yang mau mem”bully” saya……hingga saya merasa bahwa ada saatnya saya harus berhenti dan keluar dari sosial media ini untuk mengintrospeksi diri saya sendiri, apakah selama ini saya telah merusak dan menyakiti diri saya demi menjadi sesuatu, demi menjadi yang terpenting.….padahal sungguh, siapa sih saya ini ? saya bukan siapa-siapa toh……jadi ngapain juga saya harus berusaha terlalu keras di sosial media ini ?
Memang tidak pernah mudah menerima kritikan, karena ego setiap orang hanya mengizinkan kita untuk menerima puji2an dan kata2 yang menghibur saja, namun jika kita membuka hati dan berlapang dada…..maka kritikan-lah yang dapat mengubah dan membangun karakter kita.
oh ya, sebelumnya @newsplatter telah membahas topik yang sama ini diblognya, tapi dari sudut pandang personal branding…….btw, kalau dipikir2 saya sama sekali ga ada personal branding ya ? auuu……what the hell !
http://manampiring17.wordpress.com/2011/09/26/personal-branding-dan-akun-yang-ditutup/#comment-445
