Ustad Fadzlan, “Berdakwah di Papua, Luaarr Biasa Nikmatnya!”

24 Jul Featured Image -- 1848

susandevy:

“Katakan Indonesia satu, Indonesia berdaulat untuk rakyat & negara dgn pegang Amanah” –

Originally posted on RheeNa's Site:

Berawal dari membaca tokoh perubahan Republika, saya langsung penasaran dengan Ustad Fadzlan Garamatan  yang telah mengislamkan sekitar 220 suku di papua dengan berdakwah ke daerah pelosok papua. Dan sampailah surfing saya ke website resmi yayasan beliau AFKN dan artikel beliau di FB RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF Dari kedua sumber tersebut saya kutip kembali di sini. Sungguh sangat menakjubkan kisahnya, karena saking kagumnya saya jadi bingung bagian mana dari cerita ini yang dipotong, karena sangat sayang untuk dilewatkan :)

Dan ini saya kutip dari FB RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF:

Pria ini bernama M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. asli Irian, berkulit gelap, berjenggot kemana-mana memilih membalut tubuhnya dengan jubah.

Lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di kampungnya.

Pengetahuan ilmu agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi keagamaan di Makassar dan Jawa…

View original 3,436 more words

PRABOWO: KAMBING HITAM 1998

12 Jun

susandevy:

Jas Merah : Jangan sekali-kali melupakan sejarah

Originally posted on Soedoet Pandang:

Prabowo 14
Oleh Jose Manuel Tesoro
Majalah Asiaweek

====================

Catatan Redaksi: Artikel ini diterjemahkan dari laporan investigasi yang ditulis Majalah Asiaweek Vo. 26/No. 8, 3 Maret 2000. Membaca artikel ini kita akan diantarkan oleh Tesoro kepada konstruksi fakta-fakta yang berbeda dengan stigma yang melekat pada berbagai peristiwa pada 1998.

====================

Satu pertanyaan yang akan selalu terlontar ketika membahas tragedi 1998 di Indonesia adalah: benarkah Prabowo adalah dalang yang sebenarnya?

Pada malam hari tanggal 21 Mei 1998, kisah itu dimulai. Lusinan tentara bersiap siaga di sekitar Istana Merdeka Jakarta dan kediaman B.J. Habibie di pinggir kota. Habibie, kurang dari 24 jam sebelumnya telah menjadi presiden Indonesia ketiga. Komandan dari pasukan ini adalah Letnan Jenderal Prabowo Subianto yang dikenal brutal. Seminggu sebelunmya, dia telah menyusun kekuatan terselubung pada pertemuan yang diselenggarakannya diam-diam—operasi-operasi pasukan khusus, preman jalanan, dan kekuatan muslim radikal—yang bertugas membunuh, membakar, memerkosa, merampok dan menyebarkan kebencian antar-ras di jantung kota Jakarta. Tujuannya:…

View original 7,081 more words

Ash-Shiddiq

27 May

“Intentions count in your actions”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah pertama setelah wafatnya Rasululloh. mengenai keutamaan Abu Bakar selain beliau merupakan salah satu orang yang pertama masuk Islam, juga sifatnya yang “selalu berkata benar” yaitu saat Nabi SAW membawa kabar tentang perjalanan Isra Mi’raj, Abu Bakar yang pertama membenarkan peristiwa itu, untuk itu Nabi SAW memberinya gelar “Ash-Shiddiq”

Momen paling krusial dalam sejarah Islam adalah saat wafatnya Nabi SAW, ditengah-tengah kebingungan umat dan bahkan Umar bin Khattab mengacungkan pedangnya dan mengancam akan menebas siapapun yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat, kemudian Abu Bakar muncul dan mencegah perpecahan diantara umat dengan berkata :

Barangsiapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya dia telah wafat, barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah tetap hidup, “Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu berbalik kebelakang (murtad) ? barangsiapa yang berbalik kebelakang maka ia tidak mendatang mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur “(QS 2:144)

mendengar ini Umar bin Khattab tersadar dan berkata bahwa seakan-akan belum pernah mendengar ayat ini sampai Abu Bakar mengucapkannya.

Abu Bakar dibai’at menjadi khalifah pertama dan berikut pidatonya :

“Aku telah terpilih sebagai pemimpin bagi kalian semua dan aku bukanlah yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku, jika aku berbuat kekeliruan maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan dusta adalah penghianatan, patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya, namun jika aku tidak mematuhi keduanya maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku”

tugas pertama yang dilakukannya adalah mempersatukan umat yang sempat terpecah setelah wafatnya Nabi SAW dengan membentuk batalyon yang salah satu panglimanya adalah Khalid bin Walid si “Pedang Allah”, juga pada masa ini Abu Bakar mulai mengumpulkan Al-Quran dengan bantuan salah seorang sahabat yang hafiz quran yaitu Zaid bin Tsabit.

Abu Bakar wafat setelah dua tahun menjabat sebagai khalifah dan beliau diteruskan oleh Umar bin Khattab “Amirul Mukminin” pada saat wafatnya Abu Bakar ini pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid baru memenangkan pertempuran melawan pasukan romawi di Syam (Irak)

Kekalahan romawi ini membuat gusar kaisar Heraclius, yang bertanya pada prajuritnya “apakah jumlah kalian lebih banyak berlipat-lipat dibandingkan mereka ?” Benar jawab mereka, Heraclius bertanya lagi “jadi kenapa kalian kalah ?

mereke menjawab “kami kalah karena mereka beribadah di malam hari, puasa disiang hari, mereka menepati janji, mengajak pada perbuatan baik dan mencegah keburukan, sedangkan kami gemar minum, berzina, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat zalim dan selalu berbuat kerusakan”

mendengar itu Heraclius berkata “engkau benar

 

 

abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)

 

 

 

 

 

The Black Swan

6 May

“A good book gets better at the second reading. A great book at the third. Any book not worth rereading isn’t worth reading”

Surga Lebanon tiba-tiba menguap, butiran peluru dan roket mulai beterbangan, beberapa bulan setelah saya masuk penjara, setelah hampir 13 abad terjalin hidup yang harmonis bersama antar etnik yang luarbiasa, sebuah Black Swan entah dari mana telah mengubah tempat firdaus itu menjadi neraka.

Perang saudara yang sengit berkecamuk antara golongan Kristen dan Islam, perang itu brutal, karena medan perang terjadi berada ditengah-tengah kota dan tembak-menembak terjadi di daerah hunian.

Disamping kehancuran fisik, perang telah menghilangkan sebagian besar warisan budaya yang telah menjadikan kota-kota Levantin terus menjadi pusat rujukan intelektual yang sempurna selama 3000 tahun.

Jumlah kaum berbudaya di kawasan ini turun sampai batas yang mengkhawatirkan, seketika tempat ini menjadi ruang hampa, Brain drain yang terjadi sulit untuk dipulihkan dan warisan budaya nenek moyang telah hilang untuk selama-lamanya.

Malam itu pada 19 Oktober 1987 saya tidur pulas selama 12 jam.

Sulit bercerita kepada semua teman-teman saya yang semua resah akibat musibah itu (Black Monday, 1987) tentang perasaan yang meluap-luap karena pendapat saya terbukti benar, ada masa-masa pada saat sangat lazim bagi trader untuk membanting telefon saat kehilangan  uang, ada yang membanting kursi, menggebrak meja, suatu hari ada trader yang mencekik saya hingga perlu empat penjaga untuk menariknya pergi.

Perang Lebanon dan Black Monday 1987 tampak seperti dua fenomena yang identik, jelas bagi saya bahwa hampir setiap orang mempunyai sebuah mental blindspot dalam mengenali peran peristiwa-peristiwa seperti itu : situasinya seperti ketika orang entah mengapa tidak mampu melihat “makluk raksasa” dihadapan mereka atau melihatnya namun dengan cepat melupakan semua itu setelah berlalu.

Jawabannya jelas bagi saya : Kebutaan tersebut psikologis, tetapi bisa juga biologis. masalahnya bukan terletak pada kejadian-kejadian tersebut namun dalam cara kita memahaminya atau memandangnya.

Berhentilah percaya pada semua hal yang dikatakan orang banyak, dan ingat bahwa anda adalah seekor Black Swan

dari The Black Swan, Nassim Taleb

 

 

Historical Trauma – kejadian traumatis yang diwariskan

28 Apr

“Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama Manusia”

Menjelang pileg dan pilpres ini, semua orang mengutarakan berbagaimacam analisa, ada yang akurat, banyak yang tidak, salah satunya yang kemarin saya dapatkan dari seorang teman yang mengkritik kekalahan salah satu partai nasional di propinsi Sumatra Barat dengan alasan karena di daerah itu pernah terjadi kejadian yang meninggalkan peristiwa traumatis yaitu pemberontakan PRRI

Saya tidak paham apa korelasinya PRRI dengan kekalahan partai nasional tersebut, jelas kejadian itu sudah lama dan hampir tidak ada yang mengingatnya lagi, juga kalaupun trauma historis itu masih terekam pada setiap kromosom-kromosom DNA penduduk Sumbar, mereka tentunya lebih memilih partai lain atas alasan yang lebih logis.

kemudian saya baru sadar bahwa orang yang melontarkan analisa ini masih keturunan suku Batak, entah kenapa saya sudah sering berurusan dengan suku ini dan mereka memiliki sentimen yang tajam terhadap suku Sumbar.

Saya paham bahwa artikel yang saya tulis ini bernuansa politik dan kesukuan yang kental, tapi saya mencoba untuk melihat ini secara netral, dengan harapan semoga kita tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh mereka sebelumnya.

Pada abad 19, terjadi perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol, perang ini sebetulnya adalah gerakan pencerahan agama, untuk memperbaiki kualitas akidah umat, namun gerakan ini digunakan oleh Belanda untuk memecah belah kaum Paderi dengan Kerajaan Pagaruyung di Sumbar, singkat cerita kerajaan Pagaruyung meminta bantuan Belanda untuk menumpas kaum Paderi, hingga akhirnya timbul peperangan yang pada akhirnya menghancurkan seluruh kerajaan Pagaruyung.

Menurut cerita, ada sebagian suku yang lari ke daerah Batak, mereka ini yang kemudian dikenal sebagai suku “Mandailing” (Mande Hilang, atau hilang akar keluarganya) jadi suku Mandailing di Batak (Nasution, Lubis, Harapan, dsb) adalah masih serumpun dengan orang Sumbar.

Dari catatan seorang Belanda pada masa itu, kaum Batak di daerah Karo juga menderita kekalahan yang cukup parah akibat perang dengan kaum Paderi, jadi kaum Paderi bukan saja menyerang kerajaan Pagaruyung dan Belanda, tapi juga suku-suku Batak yang pada saat itu masih kanibal.

jadi apakah sentimen orang Batak pada orang Sumbar diturunkan oleh gen ?

Pemberontakan PRRI yang menginginkan pemisahan sebagian daerah sumatra itu akhirnya ditumpas oleh jendral A.H. Nasution, saya tidak tahu seberapa banyak korban yang berjatuhan akibat itu, namun dampaknya masih terasa hingga saat ini, yaitu setiap orang dari Sumatra Barat berusaha melepaskan identitas kesukuannya dengan tidak menggunakan nama marganya, bahkan sebagian besar memberikan nama-nama asing pada anak2nya.

Kekerasan, bagaimanapun bukanah solusi, kekerasan hanya melahirkan permasalahan baru, itu sebabnya mengapa para Founding Fathers kita (Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka) sangat menentang segala bentuk kekerasan, politik memang kejam namun peperangan bukan solusinya.

“You can travel the world but If you cannot let go of the past, you will never move on.”

 

 

 

 

Sejarah, pengulangan yang berirama

13 Apr

“Sejarah akan berulang dengan sendirinya, yang pertama adalah tragedi, yang kedua adalah lelucon”

Dalam lini masa kehidupan manusia, kita akan menemui suatu pola pengulangan yang serupa, pola itu bagai puisi yang berirama, seperti lagu yang memiliki bagian pembukaan, chorus dan penutupan.

Sjahrir, yang merupakan salah satu Founding Fathers yang memiliki jasa yang besar dalam perjuangan kemerdekaan negri ini, berkat kepiawaian diplomasinya berkali-kali nasib bangsa ini terselamatkan pada masa-masa agresi militer belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Namun roda nasib berputar, Partai Sosialis (PSI) yang dipimpinnya tidak menang pada Pemilu pertama di negri ini, bahkan setelah pemberontakan PRRI-Permesta, Sukarno semakin paranoid dengan para Masyumi dan Sosialis, hal ini dimanfaatkan Aidit yang komunis dan Soebandrio untuk semakin dekat dengan Sukarno.

Soebandrio yang awal karirnya diorbitkan oleh Sjahrir justru menikamnya dari belakang, laporan intelejen dari Soebandrio menyebabkan tokoh-tokoh politik yang berseberangan dengan pemerintah ditangkap dan diasingkan termasuk Sjahrir.

Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss, tanggal 9 April 1966 dengan status tahanan politik oleh mantan teman seperjuangannya sendiri, Soekarno

Soebandrio sendiri adalah merupakan tokoh yang penuh kontroversi, dicap sebagai “Durno” tokoh dalam pewayangan yang bermuka dua dan menebarkan fitnah den kebencian, pada masa pasca G30S PKI nasib Soebandrio langsung berubah drastis ; dituduh terlibat secara langsung peristiwa makar tersebut (walau tanpa bukti) dan dijatuhi hukuman mati yang kemudian menjadi hukuman seumur hidup.

Pada 2004 Soebandrio wafat pada usia 90 tahun, karena umurnya yang panjang dan memori yang masih jelas, Soebandrio sempat menuliskan secara rinci kronologi kejadian makar G30S PKI yang merupakan sebuah kudeta yang rekayasa.

Setelah dilengserkan, Soekarno hidup dalam pengasingan sebagai tahanan politik, kondisi kesehatannya yang semakin menurun dan tidak diberikan fasilitas pengobatan yang memadai oleh pemerintah saat itu, menyebabkan Soekarno semakin dekat dengan ajalnya.

Pernah ada segerombolan komplotan yang pro-Soekarno, mencoba menculiknya agar dia terbebas dari tahanan, namun Soekarno menolak karena tidak ingin hal tersebut menimbulkan perang saudara di negri ini.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” Hatta menoleh pada isterinya dan berkata “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini”.

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu, No” mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” kata Bung Karno, Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar tahanan Sukarno yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Soekarno dan Sjahrir mati dalam pengasingan, Tan Malaka mati ditembak, hanya Hatta saja yang cukup pintar untuk keluar dari kancah politik sebelum terlambat.

“Kamis, 21 mei 1998, beberapa mobil masuk ke dalam halaman rumah Cendana, dari mobil mercedes benz hitam keluar Suharto, dengan kemeja safari wajah jendral besar itu tampak suram dan pucat. Sulit merupakan peristiwa itu, ini adalah pertama kalinya Bapak pulang sebagai warga negara biasa, cerita Tutut”

“Saya memutuskan mundur supaya tidak ada korban jatuh lagi, jika saya tetap kukuh maka korban akan berjatuhan lagi, saya dulu naik berkat mahasiswa, sekarang sudah ada korban mahasiswa, saya tidak mau ada korban lagi” – Suharto

Sepuluh tahun kemudian Jendral besar itu tutup usia.

Dan sejarah berulang kembali.

history_repeats_itself-572-185

 

 

 

Momen-momen menjelang G30S PKI

12 Apr

23 Mei 1965 PKI yang merupakan partai terbesar di Indonesia saat itu merayakan ulang tahunnya secara besar2an, tamu-tamu dari seluruh negara-negara komunis seperti Cina, Albania, Korea, Vietnam dan Uni Soviet berdatangan.  Jakarta dipenuhi oleh poster-poster raksasa bergambarkan para tokoh-tokoh komunis ; Sukarno, Aidit, Lenin, Karl Marx…..Jakarta bagai menjadi Ibu Kota Komunis pada hari itu.

Pawai “merah” tersebut terpusat di Gelora Senayan, Presiden Sukarno memeluk Aidit, Ketua PKI dengan mesra, dan disambut oleh tepuk tangan semua orang yang memadati stadion itu.

“Aku, sebagai pemimpin besar revolusi memang merangkul PKI, sebab siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur hebat dalam revolusi kita ? saat ini PKI beranggotakan tiga juta orang, dan simpatisan 20 juta orang, dan oleh karena PKI yang paling konsekuen progresif revolusioner”

Pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1965, Sukarno menyampaikan pidato kenegaraan “Tjapailah Bintang-bintang di Langit” yang isinya mengobarkan semangat revolusi pada rakyat, dan pada 30 Agustus terjadi demo besar2an di Jakarta yang menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika dan penutupan kedutaan besarnya.

Massa melewati kedutaan besar inggris yang terletak di samping monumen Selamat Datang, yang hari ini kita kenal dengan Bundaran HI.

Howard Jones dubes AS saat itu melukiskan momen itu :

“At the British Embasy, my doughty colleague, Sir Andrew Gilchrist received them in spirit of There will always be an England, when the rioters departed with a shout of Hidup Bung Karno, the British Ambassador responded with Hidup U Thant, to make sure the crowd had no doubt about the British Spirit, Gilchrist sent his military attaches to stride up and down the balcony playing his bagpipes….”

begitu para atase militer Inggris memainkan alat musik skotlandia yang bunyinya sangat bising itu, diluar dugaan massa menjadi beringas dan terbakar amarahnya.

“I have no doubt that Sir Andrew meant the gestures in good fun, but the Indonesians did not appreciate the Scotsman’s good sense of humor, then they broke through the gates, pushed over the ambassador’s big black Rolls Royce, and set it on fire….”

(oookay mister, next time don’t use bagpipes with the rioters. LOL)

Sukarno sendiri tidak berbuat apa-apa terhadap aksi tersebut, bahkan sebelum masa penjajahan jepang, beliau suka mengucapkan kalimat yang membakar semangat masanya : “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”

(loe kate baju apa disetrika ???)

17 hari sebelum peristiwa tragis G30S PKI, Sukarno memberikan penghargaan tertinggi kepada Aidit ; Bintang Mahaputra, dengan alasan “atas kepahlawanan berikut teladan yang telah dia berikan dalam political leadership”

PKI memang merupakan organisasi politik yang menganut ideologi komunis, namun tidak seperti organisasi komunis di negara lain, PKI tidak memiliki angkatan bersenjata, sementara itu peran militer saat itu sudah terwakili oleh TNI/ABRI yang telah banyak berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan negri ini.

Jadi bagaimana Sukarno sampai sebegitu dekatnya dengan PKI ?

perlu dipahami bahwa PKI pada momen-momen menjelang G30S PKI bukan PKI yang sama pada di awal munculnya pada Revolusi Komunis di masa pra-kemerdekaan yang bersatu-padu dengan kekuatan masa dan masih sejalan dengan Serikat Islam, PKI pada masa itu adalah PKI murni komunis yang memiliki hubungan langsung dengan Soviet, bukan lagi PKI komunis-religius diawal masa perjuangan pra-kemerdekaan yang diusung oleh Tan Malaka

Walau demikian Sukarno bukanlah komunis, ideologinya adalah ideologi yang diciptakannya sendiri : Marheinisme yang bertujuan untuk mengangkat kehidupan rakyat kecil dan mandiri dalam segala hal.

Namun pada saat itu Sukarno sedang melakukan proyek besar : Ganyang Malaysia, yang awalnya karena pencaplokan wilayah di Kalimantan oleh Malaysia, Sukarno menentang hal ini karena tindakan ini akan memperbesar pengaruh imperialisme Inggris di sekitarnya.

Ganyang Malaysia bukanlah hal sepele, karena Malaysia tentu saja mendapat bantuan dari Inggris dan negara persemakmuran lainnya (Australia, New Zealand, bahkan tentara Gurkha dari nepal yang terkenal itupun juga turut diterjunkan)

Jadi ini merupakan pertempuran yang sangat, sangat, sangaat tidak seimbang :  Indonesia melawan persemakmuran Inggris

Untuk mewujudkan proyek ini Sukarno perlu dukungan penuh dari TNI/ABRI, namun dalam hal ini TNI terpecah menjadi dua kubu ; Jendral Ahmad Yani tidak menyetujui rencana ini karena sudah pasti kalah, sedangkan A.H. Nasution justru mendukung Sukarno karena khawatir PKI akan semakin dekat dengan Sukarno jika TNI tidak berpihak pada Presiden.

Akibat tidak mendapat dukungan dari TNI, Sukarno semakin dekat dengan PKI yang 100% menyetujui rencana Ganyang Malaysia.

Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara, tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia ( dan kubu Inggris, Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang.

Proyek Ganyang Malaysia yang memakan biaya banyak ini berakibat pada pelemahan ekonomi secara makro ; inflasi tak terkendali, nilai rupiah merosot, rakyat semakin miskin dan kelaparan, hal yang sama terjadi pada saat Jerman melakukan invasi militer keseluruh eropa, juga pada saat Rusia mengerahkan pasukannya setelah Revolusi Bolshevik, pada akhirnya perang hanya mengorbankan rakyat kecil, yang semakin sulit untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Kondisi ekonomi yang parah ini nantinya akan menjadi pemicu gerakan demo besar2an oleh mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dengan Tritura, belakangan diketahui bahwa inflasi yang tinggi dan hilangnya barang-barang sembako disebabkan oleh kroco-kroco Suharto yaitu Om Liem dan Bob Hasan yang mempermainkan pasar dengan lihai.

Komunis adalah ideologi yang panas seperti tungku uap yang dipaksa bekerja tanpa henti, karena pemimpinnya terlalu bersemangat ingin mengobarkan ideologi itu keseluruh dunia namun hanya akan mengorbankan rakyatnya sendiri. seperti bunga yang gagal mekar, Komunis menghilang dari kacah politik negri ini, seiring dengan lenyapnya ideologi lainnya seperti Sosialis yang diusung oleh Sjahrir.

dan pada akhirnya semua ini bermuara pada tragedi G30S PKI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 824 other followers