Deadliest Sins

14 Aug

Muscles without Strength,

Friendship without Trust,

Opinion without Risk,

Change without Aesthetics,

Age without Values,

Food without Nourishment

Power without Fairness,

Facts without Rigor,

Degrees without Erudition,

Militarism without Fortitude,

Progress without Civilization,

Complication without Depth,

Fluency without Content,

 

by N.N. Taleb

 

addittion :

Knowledge without Wisdom,

Love without Devotion

The Paradoxical Commandments

7 Aug

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jealous.  be happy anyway.

 
You see, in the final analysis, it is between you and God.

it was never between you and them anyway

- Kent M. Keith

Arab, Israel, Perang dan Al-Wahn

6 Aug

 

“the main purpose of monotheistic religion is not telling man there is God, but letting him know he is not God”

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

hampir dua bulan ini saya mencoba mempelajari tentang konflik di timur tengah dan sejarahnya, begitu rumitnya masalah di timur tengah ini membuat kita lupa bahwa dulunya semua negara-negara Islam ini semua bersatu dalam satu khalifah selama hampir 12 abad.

untuk memahami kondisi saat ini saya mencoba mempelajari dari Perang Dunia 1 dimana khalifah Turki yang pada awalnya tidak mau terlibat dalam aliansi akhirnya mulai ikut bergabung dalam perang ini yaitu pada Perang Galipolli, dimana khalifah Turki keluar sebagai pemenangnya, namun dengan kondisi politik yang makin tidak stabil disusul dengan krisis ekonomi, akhirnya kesultanan Turki berakhir dengan revolusi oleh Mustafa Kemal At-atruk.

Dengan berakhirnya kesultanan Turki, diiringi oleh revolusi arab yang dipimpin oleh “Lawrence of Arabia” maka muncullah negara-negara timur tengah modern yang ada saat ini ; Saudi Arabi, Mesir, Jordania, Syria, Lebanon, Irak, Iran, dst.

dan apakah yang terjadi di timur tengah setelah perang dunia kedua berakhir ?

Israel mulai mendirikan negara Israel di tanah Palestina

Negara Israel ini bukan berdiri begitu saja, jauh sebelumnya mereka sudah melakukan lobi dan negosiasi dengan negara2 aliansi, dan karena pertimbangan politik dan kuatnya pengaruh zionist, maka negara aliansi mendukung penuh berdirinya negara israel.

kemudian apa reaksi dari negara-negara timur tengah yang baru merdeka ?

mereka bersama-sama menggempur israel yang kelak dikenal sebagai “Arab – Israel War” pada 1948

aliansi negara2 Islam terdiri dari Jordania, Mesir, Syria, Liga Arab dan Irak, melawan Israel dan aliansinya (Inggris, Amerika dan Rusia – saat itu Stalin memberikan bantuan dana untuk negara israel)

Pertanyaan saya : mengapa negara2 Islam saat itu kalah melawan israel yang baru saja menderita dari musibah holocaust ? dari segi jumlah tentara, pasukan aliansi negara islam jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan pasukan tentara israel

ternyata ada beberapa poin yang menyebabkan kekalahan negara2 aliansi Islam :

  • Negara aliansi Islam tidak memiliki pemimpin yang handal saat itu
  • Pasukan israel walaupun jumlahnya sedikit namun lebih efisien dan sudah memiliki pengalaman perang dari WW1 dan WW2
  • tidak adanya pemimpin dalam aliansi negara islam menyebabkan tidak ada kesatuan gerakan, pembagian sumber daya (amunisi dan tentara) juga tidak ada kesatuan strategi dalam perang.

kekalahan negara2 aliansi Islam pada perang ini berakibat fatal, antara lain makin kuatnya dukungan negara2 aliansi (amerika, dkk) pada zionist untuk melindungi negara israel, terbentuknya IDF, pasukan elit israel yang saat ini menggempur Hamas dan rakyat palestina, dan yang paling menyedihkannya yaitu semakin tajam konflik di timur tengah yang mengakibatkan semakin terpecahnya negara2 di timur tengah.

Kalau membaca berita tentang timur tengah saat ini, saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, sulit untuk menguraikan benang yang sudah kusut ini, bahkan setelah mempelajari sejarah munculnya negara2 islam modern pun saya masih belum memahami konflik di timur tengah.

dan kita sebagai negara muslim terbesar di dunia pun terkena imbasnya, sebut saja ISIS, syiah, ahmadiyah, dst. mereka adalah ‘hadiah’ dari timur tengah yang entah kenapa harus ada juga disini, sulit untuk memberi komentar tentang mereka karena kita tidak tahu apa alasan berbagaimacam aliran tersebut muncul disini.

harapan saya semoga kita semua bisa melalui semua konflik ini, kembali bersatu lagi dan terhindari dari semua fitnah, karena saya masih percaya bahwa agama ini datang ke dunia sebagai rahmat untuk semua, baik yang muslim maupun penganut agama lain, seperti dulu saat kita masih bersatu dalam satu naungan khalifah

 

Ash-Shiddiq

27 May

“Intentions count in your actions”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah pertama setelah wafatnya Rasululloh. mengenai keutamaan Abu Bakar selain beliau merupakan salah satu orang yang pertama masuk Islam, juga sifatnya yang “selalu berkata benar” yaitu saat Nabi SAW membawa kabar tentang perjalanan Isra Mi’raj, Abu Bakar yang pertama membenarkan peristiwa itu, untuk itu Nabi SAW memberinya gelar “Ash-Shiddiq”

Momen paling krusial dalam sejarah Islam adalah saat wafatnya Nabi SAW, ditengah-tengah kebingungan umat dan bahkan Umar bin Khattab mengacungkan pedangnya dan mengancam akan menebas siapapun yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat, kemudian Abu Bakar muncul dan mencegah perpecahan diantara umat dengan berkata :

Barangsiapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya dia telah wafat, barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah tetap hidup, “Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu berbalik kebelakang (murtad) ? barangsiapa yang berbalik kebelakang maka ia tidak mendatang mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur “(QS 2:144)

mendengar ini Umar bin Khattab tersadar dan berkata bahwa seakan-akan belum pernah mendengar ayat ini sampai Abu Bakar mengucapkannya.

Abu Bakar dibai’at menjadi khalifah pertama dan berikut pidatonya :

“Aku telah terpilih sebagai pemimpin bagi kalian semua dan aku bukanlah yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku, jika aku berbuat kekeliruan maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan dusta adalah penghianatan, patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya, namun jika aku tidak mematuhi keduanya maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku”

tugas pertama yang dilakukannya adalah mempersatukan umat yang sempat terpecah setelah wafatnya Nabi SAW dengan membentuk batalyon yang salah satu panglimanya adalah Khalid bin Walid si “Pedang Allah”, juga pada masa ini Abu Bakar mulai mengumpulkan Al-Quran dengan bantuan salah seorang sahabat yang hafiz quran yaitu Zaid bin Tsabit.

Abu Bakar wafat setelah dua tahun menjabat sebagai khalifah dan beliau diteruskan oleh Umar bin Khattab “Amirul Mukminin” pada saat wafatnya Abu Bakar ini pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid baru memenangkan pertempuran melawan pasukan romawi di Syam (Irak)

Kekalahan romawi ini membuat gusar kaisar Heraclius, yang bertanya pada prajuritnya “apakah jumlah kalian lebih banyak berlipat-lipat dibandingkan mereka ?” Benar jawab mereka, Heraclius bertanya lagi “jadi kenapa kalian kalah ?

mereke menjawab “kami kalah karena mereka beribadah di malam hari, puasa disiang hari, mereka menepati janji, mengajak pada perbuatan baik dan mencegah keburukan, sedangkan kami gemar minum, berzina, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat zalim dan selalu berbuat kerusakan”

mendengar itu Heraclius berkata “engkau benar

 

 

abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)

 

 

 

 

 

The Black Swan

6 May

“A good book gets better at the second reading. A great book at the third. Any book not worth rereading isn’t worth reading”

Surga Lebanon tiba-tiba menguap, butiran peluru dan roket mulai beterbangan, beberapa bulan setelah saya masuk penjara, setelah hampir 13 abad terjalin hidup yang harmonis bersama antar etnik yang luarbiasa, sebuah Black Swan entah dari mana telah mengubah tempat firdaus itu menjadi neraka.

Perang saudara yang sengit berkecamuk antara golongan Kristen dan Islam, perang itu brutal, karena medan perang terjadi berada ditengah-tengah kota dan tembak-menembak terjadi di daerah hunian.

Disamping kehancuran fisik, perang telah menghilangkan sebagian besar warisan budaya yang telah menjadikan kota-kota Levantin terus menjadi pusat rujukan intelektual yang sempurna selama 3000 tahun.

Jumlah kaum berbudaya di kawasan ini turun sampai batas yang mengkhawatirkan, seketika tempat ini menjadi ruang hampa, Brain drain yang terjadi sulit untuk dipulihkan dan warisan budaya nenek moyang telah hilang untuk selama-lamanya.

Malam itu pada 19 Oktober 1987 saya tidur pulas selama 12 jam.

Sulit bercerita kepada semua teman-teman saya yang semua resah akibat musibah itu (Black Monday, 1987) tentang perasaan yang meluap-luap karena pendapat saya terbukti benar, ada masa-masa pada saat sangat lazim bagi trader untuk membanting telefon saat kehilangan  uang, ada yang membanting kursi, menggebrak meja, suatu hari ada trader yang mencekik saya hingga perlu empat penjaga untuk menariknya pergi.

Perang Lebanon dan Black Monday 1987 tampak seperti dua fenomena yang identik, jelas bagi saya bahwa hampir setiap orang mempunyai sebuah mental blindspot dalam mengenali peran peristiwa-peristiwa seperti itu : situasinya seperti ketika orang entah mengapa tidak mampu melihat “makluk raksasa” dihadapan mereka atau melihatnya namun dengan cepat melupakan semua itu setelah berlalu.

Jawabannya jelas bagi saya : Kebutaan tersebut psikologis, tetapi bisa juga biologis. masalahnya bukan terletak pada kejadian-kejadian tersebut namun dalam cara kita memahaminya atau memandangnya.

Berhentilah percaya pada semua hal yang dikatakan orang banyak, dan ingat bahwa anda adalah seekor Black Swan

dari The Black Swan, Nassim Taleb

 

 

Historical Trauma – kejadian traumatis yang diwariskan

28 Apr

“Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama Manusia”

Menjelang pileg dan pilpres ini, semua orang mengutarakan berbagaimacam analisa, ada yang akurat, banyak yang tidak, salah satunya yang kemarin saya dapatkan dari seorang teman yang mengkritik kekalahan salah satu partai nasional di propinsi Sumatra Barat dengan alasan karena di daerah itu pernah terjadi kejadian yang meninggalkan peristiwa traumatis yaitu pemberontakan PRRI

Saya tidak paham apa korelasinya PRRI dengan kekalahan partai nasional tersebut, jelas kejadian itu sudah lama dan hampir tidak ada yang mengingatnya lagi, juga kalaupun trauma historis itu masih terekam pada setiap kromosom-kromosom DNA penduduk Sumbar, mereka tentunya lebih memilih partai lain atas alasan yang lebih logis.

kemudian saya baru sadar bahwa orang yang melontarkan analisa ini masih keturunan suku Batak, entah kenapa saya sudah sering berurusan dengan suku ini dan mereka memiliki sentimen yang tajam terhadap suku Sumbar.

Saya paham bahwa artikel yang saya tulis ini bernuansa politik dan kesukuan yang kental, tapi saya mencoba untuk melihat ini secara netral, dengan harapan semoga kita tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh mereka sebelumnya.

Pada abad 19, terjadi perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol, perang ini sebetulnya adalah gerakan pencerahan agama, untuk memperbaiki kualitas akidah umat, namun gerakan ini digunakan oleh Belanda untuk memecah belah kaum Paderi dengan Kerajaan Pagaruyung di Sumbar, singkat cerita kerajaan Pagaruyung meminta bantuan Belanda untuk menumpas kaum Paderi, hingga akhirnya timbul peperangan yang pada akhirnya menghancurkan seluruh kerajaan Pagaruyung.

Menurut cerita, ada sebagian suku yang lari ke daerah Batak, mereka ini yang kemudian dikenal sebagai suku “Mandailing” (Mande Hilang, atau hilang akar keluarganya) jadi suku Mandailing di Batak (Nasution, Lubis, Harapan, dsb) adalah masih serumpun dengan orang Sumbar.

Dari catatan seorang Belanda pada masa itu, kaum Batak di daerah Karo juga menderita kekalahan yang cukup parah akibat perang dengan kaum Paderi, jadi kaum Paderi bukan saja menyerang kerajaan Pagaruyung dan Belanda, tapi juga suku-suku Batak yang pada saat itu masih kanibal.

jadi apakah sentimen orang Batak pada orang Sumbar diturunkan oleh gen ?

Pemberontakan PRRI yang menginginkan pemisahan sebagian daerah sumatra itu akhirnya ditumpas oleh jendral A.H. Nasution, saya tidak tahu seberapa banyak korban yang berjatuhan akibat itu, namun dampaknya masih terasa hingga saat ini, yaitu setiap orang dari Sumatra Barat berusaha melepaskan identitas kesukuannya dengan tidak menggunakan nama marganya, bahkan sebagian besar memberikan nama-nama asing pada anak2nya.

Kekerasan, bagaimanapun bukanah solusi, kekerasan hanya melahirkan permasalahan baru, itu sebabnya mengapa para Founding Fathers kita (Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka) sangat menentang segala bentuk kekerasan, politik memang kejam namun peperangan bukan solusinya.

“You can travel the world but If you cannot let go of the past, you will never move on.”

 

 

 

 

Sejarah, pengulangan yang berirama

13 Apr

“Sejarah akan berulang dengan sendirinya, yang pertama adalah tragedi, yang kedua adalah lelucon”

Dalam lini masa kehidupan manusia, kita akan menemui suatu pola pengulangan yang serupa, pola itu bagai puisi yang berirama, seperti lagu yang memiliki bagian pembukaan, chorus dan penutupan.

Sjahrir, yang merupakan salah satu Founding Fathers yang memiliki jasa yang besar dalam perjuangan kemerdekaan negri ini, berkat kepiawaian diplomasinya berkali-kali nasib bangsa ini terselamatkan pada masa-masa agresi militer belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Namun roda nasib berputar, Partai Sosialis (PSI) yang dipimpinnya tidak menang pada Pemilu pertama di negri ini, bahkan setelah pemberontakan PRRI-Permesta, Sukarno semakin paranoid dengan para Masyumi dan Sosialis, hal ini dimanfaatkan Aidit yang komunis dan Soebandrio untuk semakin dekat dengan Sukarno.

Soebandrio yang awal karirnya diorbitkan oleh Sjahrir justru menikamnya dari belakang, laporan intelejen dari Soebandrio menyebabkan tokoh-tokoh politik yang berseberangan dengan pemerintah ditangkap dan diasingkan termasuk Sjahrir.

Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss, tanggal 9 April 1966 dengan status tahanan politik oleh mantan teman seperjuangannya sendiri, Soekarno

Soebandrio sendiri adalah merupakan tokoh yang penuh kontroversi, dicap sebagai “Durno” tokoh dalam pewayangan yang bermuka dua dan menebarkan fitnah den kebencian, pada masa pasca G30S PKI nasib Soebandrio langsung berubah drastis ; dituduh terlibat secara langsung peristiwa makar tersebut (walau tanpa bukti) dan dijatuhi hukuman mati yang kemudian menjadi hukuman seumur hidup.

Pada 2004 Soebandrio wafat pada usia 90 tahun, karena umurnya yang panjang dan memori yang masih jelas, Soebandrio sempat menuliskan secara rinci kronologi kejadian makar G30S PKI yang merupakan sebuah kudeta yang rekayasa.

Setelah dilengserkan, Soekarno hidup dalam pengasingan sebagai tahanan politik, kondisi kesehatannya yang semakin menurun dan tidak diberikan fasilitas pengobatan yang memadai oleh pemerintah saat itu, menyebabkan Soekarno semakin dekat dengan ajalnya.

Pernah ada segerombolan komplotan yang pro-Soekarno, mencoba menculiknya agar dia terbebas dari tahanan, namun Soekarno menolak karena tidak ingin hal tersebut menimbulkan perang saudara di negri ini.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” Hatta menoleh pada isterinya dan berkata “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini”.

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu, No” mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” kata Bung Karno, Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar tahanan Sukarno yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Soekarno dan Sjahrir mati dalam pengasingan, Tan Malaka mati ditembak, hanya Hatta saja yang cukup pintar untuk keluar dari kancah politik sebelum terlambat.

“Kamis, 21 mei 1998, beberapa mobil masuk ke dalam halaman rumah Cendana, dari mobil mercedes benz hitam keluar Suharto, dengan kemeja safari wajah jendral besar itu tampak suram dan pucat. Sulit merupakan peristiwa itu, ini adalah pertama kalinya Bapak pulang sebagai warga negara biasa, cerita Tutut”

“Saya memutuskan mundur supaya tidak ada korban jatuh lagi, jika saya tetap kukuh maka korban akan berjatuhan lagi, saya dulu naik berkat mahasiswa, sekarang sudah ada korban mahasiswa, saya tidak mau ada korban lagi” – Suharto

Sepuluh tahun kemudian Jendral besar itu tutup usia.

Dan sejarah berulang kembali.

history_repeats_itself-572-185

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 827 other followers