Gimp Book for Kids

5 Jul

Alhamdulillah,

 

akhirnya saya berhasil menulis kembali ebook terbaru : Belajar Gimp untuk anak-anak

cover

 

Dengan Fossy si Kucing Linux sebagai instrukturnya :)

fossy3

Ebook ini ditujukan untuk anak-anak diusia dini (sekitar 4 tahun) dengan dilengkapi latihan-latihan yang dapat diprint,

Instruksi di dalam ebook ini segaja saya buat dengan sangat sederhana karena memang ditujukan untuk anak-anak diusia dini, dan tentunya hanya beberapa fungsi dari Gimp yang saya gunakan dalam ebook ini,

contoh latihan :

latihan3_1

 

Demikian ebook ini saya sampaikan,

dan tentunya saya akan mempersiapkan ebook-ebook lain yang ditujukan untuk memperkenalkan software free and open source kepada anak-anak :D

(untuk latihan, dapat diunduh dengan cara klik  pada gambar di galery, klik mouse kanan dan save image)

Selamat mengunduh ! :)

Gimp_for_kids

 

Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

31 May

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)

 

 

 

 

Abraham Lincoln, President terbaik yang pernah ada

1 May

“Don’t complain about the snow on your neighbor’s roof, when your own doorstep is unclean.” – Confucius

dari sekian banyak President Amerika, hanya Abraham Lincoln yang paling banyak dituliskan biografinya, bahkan sampai saat ini para politikus masih merujuk pada kebijakannya, bahkan saat Roosevelt setiap dirudung masalah pelik senantiasa ia memandang lukisan Lincoln dan berkata : “What would Lincoln do if he were in my shoes? How would he solve this problem?”. Memang Lincoln bukan sosok yang sempurna, namun tentunya ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari tokoh ini.

Pada saat Lincoln wafat, sahabatnya seorang senator berkata : “There lies the most perfect ruler of men that the world has ever seen.”

Bagaimana Lincoln bisa menjadi the most perfect ruler ever ? apa rahasianya ?

Pada masa mudanya, Lincoln adalah seorang pengacara yang jenius, salah satu hobinya adalah menulis tentang hal yang berhubungan dengan politik, dan pada saat itu satu-satunya media adalah surat kabar, dan sering Lincoln menulis opininya tentang politik dengan menggunakan nama samaran (seperti yang kita lakukan sekarang dengan menggunakan akun anonymous di sosial media)

Namun salah satu artikelnya menuai dampak yang buruk

Lincoln menulis artikel tentang kritikannya pada salah seorang politikus dengan menggunakan bahasa yang memperolok-olok si politikus itu, seluruh warga menertawakan politikus itu setelah artikel tersebut menjadi hits. tentunya politikus itu sangat marah dan akhirnya menemukan fakta bahwa Lincoln yang menulis artikel hinaan tersebut, hingga akhirnya dia menantang Lincoln untuk duel satu lawan satu (suatu hal yang biasa terjadi pada saat itu untuk menyelesaikan permasalahan)

Pada hari yang sudah ditetapkan, Lincoln datang ke tempat duel dengan politikus itu, hampir saja mereka mulai duel maut itu jika keluarga mereka tidak menghentikannya,

dan mulai hari itu Lincoln bersumpah bahwa ia tidak akan pernah lagi menghina, mengkritik atau menghakimi siapapun

“Judge not, that Ye be not judged.”

“Don’t criticize them; they are just what we would be under similar circumstances.”

Battle of Gettysburg, salah satu perang American Civil War, Jendral Meade yang memimpin perang itu melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Lincoln, bahkan ia mengabaikan perintah Lincoln. dalam amarahnya, Lincoln berkata kepada bawahannya : ” If I had gone up there, I could have whipped him by myself !!”

Lincoln menulis sebuah surat yang berisikan tentang kegusaran dan kekecewannya kepada Jendral Meade, dan apakah yang terjadi ? Meade tidak pernah melihat surat itu…..

Lincoln tidak pernah mengirimkan surat itu, dan surat itu ditemukan dalam mejanya setelah ia wafat.

dalam kehidupannya, cobaan terberat Lincoln adalah dari perkawinannya sendiri,

sahabatnya berkata setelah Lincoln wafat, bahwa yang membunuh Lincoln bukanlah penembak itu, namun perkawinannya yang telah mematikannya selama puluhan tahun.

Lincoln menikah dengan dengan seorang wanita yang tidak pernah berhenti mengkritik dan mencelanya, seorang wanita yang memiliki karakter yang berbeda dengan Lincoln ; jika Lincoln tidak pernah menkritik apapun maka istrinya selalu mengkritik semuanya, termasuk suaminya sendiri.

pernah pada suatu hari Lincoln disirami mukanya oleh air teh panas oleh istrinya dihadapan tamunya akibat hal yang sepele…..dan apa reaksi Lincoln ? ia diam saja dan tidak berkata apapun atas penghinaan itu

“the bitter harvest of Conjugal Infelicity”

suara amarah lengkingan istrinya dapat terdengar dari kejauhan, siapapun yang telah mengenal Lincoln dan istrinya pastinya tahu bagaimana buruknya perangai istrinya itu.

jadi mengapa Lincoln tidak membalas perilaku istrinya itu ? atau mengapa dia tidak meninggalkan istrinya itu saja ?

Banyak orang yang beranggapan bahwa lelaki yang tidak membalas perangai buruk istrinya itu adalah lelaki yang pengecut, lelaki yang takut pada istrinya, namun sebenarnya justru lelaki seperti Lincoln ini adalah lelaki yang tangguh dan sabar dalam menghadapi istrinya,

mereka inilah Real Gentlement yang sebenarnya

kita tidak tahu apa alasan Lincoln tetap bertahan dalam pernikahannya itu, mungkin dia melihat kebaikan lain dalam istrinya atau mungkin dia bertahan demi anak2nya, kita tidak tahu….

Hal ini mengingatkan saya pada satu kisah dari seorang Khalifah (kalau tidak salah dia adalah Umar bin Khattab) yang pernah kedapatan sedang diomeli oleh istrinya, mengapa dia tidak menceraikan istrinya itu ? padahal ia adalah seorang pemimpin besar, namun beliau menjawab bahwa istrinya itu telah memberikan banyak hal bagi kehidupan rumah tangganya.

Maka dapat saya simpulkan bahwa rahasia Abraham Lincoln dalam membina hubungan dengan semua orang adalah :

tidak pernah mengkritik, tidak pernah mencela, tidak pernah menghakimi dan selalu melihat segi positif pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun

“I will speak ill of no man…….and speak all the good I know of everybody.” – Benjamin Franklin

 

 

 

 

 

Bir non Alkohol, dan kesalahpahaman terhadap definisi Khamr

23 Apr

“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (HR. Muslim no.2003)

Sekitar akhir dasawarsa 90-an, saya pernah bepergian ke luarnegri untuk mengunjungi sanak keluarga yang sedang belajar di negri itu, dan karena penduduk negri itu (tentu saja) mayoritasnya adalah non-muslim, maka saya dari awal sudah berharap bisa mencicipi bir non-alkohol yang belum ada di negri saya pada saat itu

dan saya terkejut dan kagum pada komunitas pelajar di sana, mereka sangat hati-hati pada setiap makanan dan minuman yang mereka akan konsumsi, jika ada hal yang tidak jelas maka mereka akan meninggalkannya, terutama juga untuk bir non-alkohol yang mereka tidak minum karena menurut mereka itu tidak halal.

sifat tersebut adalah cermin dari kebaikan akidah para pelajar di negri itu, dan saya sangat kagum pada hal itu, karena mereka banyak mendapatkan tantangan untuk melakukan ritual ibadah-ibadah sehari-hari, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerapkan dan menjalankan ritual Islam di negri itu

maka saya pun pulang ke tanah air tanpa sempat mencicipi bir non-alkohol, tapi tidak mengapa karena saya mendapatkan ilmu tentang perbedaan antara bir dan alkohol yang saya pegang teguh sampai hari ini.

lalu munculah minuman bir non-alkohol sekitar pertengahan dasawarsa 2000, dan saya cukup kaget dengan pemahaman orang disini yang menganggap bahwa bir itu halal asalkan tidak ada alkoholnya, padahal bukan masalah ada alkohol atau tidak, intinya adalah apakah itu memabukkan atau tidak !

jika masalahnya terletak pada alkohol, maka banyak makanan lain yang mengandung kadar alkohol tinggi tapi tidak memabukkan seperti durian dan tapai, tapi hukumnya tetap halal karena sifatnya yang tidak memabukkan.

berangkat dari pemahaman itu, maka sampai saat ini saya tidak pernah mencoba meminum bir non-alkohol dan alhamdulillah saya memiliki perkerjaan yang sangat paham tentang hal itu, usaha kami di bidang retail ini walaupun mendapatkan banyak cobaan dan saingan yang cukup ketat, namun so far kami tidak pernah menjual bir, baik yang beralkohol maupun non-alkohol, dan juga kami tidak menjual rokok.

Beberapa hari yang lalu ada polemik tentang bir non-alkohol dan saya sangat sedih karena reaksi banyak orang yang justru mempertanyakan hal itu bahkan ada juga yang mengejeknya tanpa mencoba mencaritahu tentang dalil asal-muasal bir non-alkohol hukumnya adalah haram,

Tapi itulah cerminan dari kondisi umat saat ini yang sedang lemah akidahnya, dan pada umat yang lemah akidahnya maka hukum fiqih tentunya akan sulit untuk dijalankan,

kemudian apa yang bisa kita perbuat ?

ada kewajiban pada setiap umat dalam kondisi ini : mempelajari agamanya

hari ini tidak sulit untuk mempelajari agama kita sendiri, sudah banyak fasilitas-fasilitas dimana saja, buku-buku dan majelis ilmu tersebar dimana-mana, bahkan di zaman digital ini kita bisa 24 jam mengakses ilmu-ilmu itu.

dan jika kita telah mendapatkan ilmu itu, maka tunaikanlah hak dari ilmu tersebut : menyebarkannya kepada yang lain, dimulai dari yang paling dekat dengan kita yaitu keluarga kita sendiri.

agar kita dapat menjadi cahaya bagi diri kita sendiri dan cahaya bagi yang lainnya.

Wallahu A’lam bishowab

 

referensi :

http://www.konsultasisyariah.com/bir-haram/

http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/382-hukum-mengkonsumsi-obat-makanan-dan-minuman-yang-mengandung-alkohol

http://rumaysho.com/umum/salah-kaprah-dengan-alkohol-dan-khomr-812.html

 

Menangani tuduhan dusta, pelajaran dari fitnah terhadap Aisyah r.a.

23 Apr

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR Thirmidzi)

Dalam mempelajari sejarah hidup Rasulullah, selalu saja ada bagian-bagian dari kisahnya yang dapat dijadikan teladan, terutama kisah kehidupan rumahtangganya, salah satu cobaan terberat dalam kehidupan rumahtangga Rasulullah adalah ketika mendapatkan cobaan fitnah dari kaum munafiq terhadap istri kesayangannya, Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Siti Aisyah adalah istri nabi yang termuda dan tercantik, kedudukannya istimewa karena ia adalah anak dari sahabat terdekat Rasulullah yaitu Abu Bakar.

Kisah ini diriwayatkan sendiri oleh Aisyah, yang terjadi setelah Rasulullah dan rombongan kaum muslim pulang dari sebuah ekspedisi kecil, dimana Aisyah pun ikut serta,

Ketika telah dekat dengan Madinah, maka beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai, aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging” : perhatikan bagaimana bijaknya Aisyah r.a. menjelaskan mengapa rombongan itu meninggalkannya, bukannya dia menyalahkan mereka karena kecerobohannya, tapi dia memahami bahwa kesalahan itu biasa saja terjadi ! mungkin kalau wanita biasa pasti sudah marah dan menyalahkan orang lain.

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihatku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menunggangi ontanya. sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari.

“Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

Pada saat ini tuduhan fitnah telah menyebar ke seluruh kota Madinah, namun apa yang Rasulullah lakukan ? apa dia langsung melabrak istri seketika mendengar tuduhan itu ? tidak, yang justru beliau lakukan adalah berdiam diri dan bahkan ia melindungi istrinya dari mendengar tuduhan itu ! walaupun beliau sendiri tidak tahu apakan fitnah itu benar atau tidak, karena ia sendiripun tidak bisa membuktikannya.

Akhirnya Aisyah mendengar juga fitnah terhadap dirinya dari pembantunya yang keceplosan, dalam panik dan kebingungan, ia minta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya, ibunya mencoba untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa sudah biasa seorang istri yang cantik akan mendapatkan cobaan seperti itu.

“Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini !’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali”

Ini mungkin adalah bagian yang paling memilukan, saat Aisyah menemukan kenyataannya bahwa fitnah itu telah tersebar dan sementara ia tidak dapat melakukan apapun, hingga akhirnya ia hanya dapat menangisi nasibnya

Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya bersabda kepada kaum muslim :  ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

Tuduhan fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik dan antek-anteknya sejatikan bukan ditujukan untuk Aisyah, namun untuk menghina Rasulullah secara tidak langsung, karena jika ada aib dalam keluarga Rasulullah maka semua orang akan berpikir bahwa Rasulullah tidak becus mendidik keluarganya sendiri, maka fitnah keji ini secara tidak langsung mencoreng muka Rasulullah

Rasulullah pergi ke rumah Abu Bakar masuk kemudian duduk. pada saat beliau duduk seraya berkata kepada Aisyah : ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

Adakah suami yang dapat berkata seperti itu kepada istrinya yang sedang mendapat tuduhan yang keji ? seorang suami normal akan dengan emosinya menunjukkan kekecewaannya dan kemarahannya pada istrinya dan pastinya akan berkata : “Keterlalulan sekali kelakukanmu ini ! apa kamu tidak pikirkan bagaimana martabatku dan kehormatanku dihadapan orang banyak ?”

tidak, tapi Rasulullah justru menjelaskan dengan sabar kepada istrinya bahwa jika ia suci dan tidak bersalah maka istrinya akan dibersihkan dari tuduhan itu, namun jika ia melakukannya maka ia menganjurkan istrinya untuk bertaubat…….

Aisyah pun melanjutkan ceritanya,

Ketika mendengar itu seketika itu pula keringlah air mataku, aku berpaling kepada kedua orang tuaku namun mereka diam saja, “Jawablah wahai ayah dan bunda perkataan Rasulullah itu !” mereka berkata “Demi Allah, kami tidak tahu apa yang harus kami jawab !

Abu Bakar dan istrinya kebingungan, ini anaknya sedang dirundung masalah pelik sementara mantunya adalah Rasulullah sendiri, mereka tidak tahu siapa yang harus mereka bela.

Maka Aisyah membela dirinya sendiri : “Demi Allah saya lebih mengetahui dan Allah lebih mengetahui bahwa saya tidak bersalah, namun ayah bunda dan kakanda tidak percaya !”

Kemudian Aisyah mengucapkan sebait ayat dari surat Yusuf, ketika Ya’qub kehilangan putranya :

“Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

Aisyah melanjutkan,

“Demi Allah, Rasulullah belum sempat beranjak dari tempat duduknya sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

“Rasulullah tersenyum bahagia setelah menerima wahyu itu. Kalimat yang pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

Maka dari kejadian ini ada beberapa poin penting yang perlu kita pahami :

  • Bukanlah sifat seorang muslim untuk menyebarluaskan berita yang tidak dapat ditelusuri kebenarannya, maka  jika kita menemui berita2 yang seperti itu baiknya kita diamkan saja untuk menghindari terjadinya fitnah
  • Rasulullah sebagai figur suami yang baik telah sangat bijak menangani hal ini, terutama cara beliau menahan isu fitnah agar tidak sampai terdengar oleh istrinya sendiri, juga bagaimana cara beliau menanyakan perihal itu kepada istrinya dengan cara yang paling santun
  • Aisyah sendiri walaupun saat itu masih sangat muda (mungkin sekitar 14 atau 15 tahun) namun sudah cukup dewasa dalam bersikap, terutama dalam menghadapi cobaan yang sangat berat ini

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

jika akhlak yang mulia itu telah tercapai maka yang pertama-tama akan merasakan manfaatnya adalah keluarga terdekat kita, terutama pasangan dan orang tua kita.

Software Digital Painting terbaik ; Krita versi 2.9.2

17 Apr

dari beberapa software open source yang sering saya gunakan (Gimp, Inskcape, MyPaint dan Blender) ada satu software yang sangat menarik karena fitur-fiturnya khusus untuk digital painting yaitu Krita

Krita memang berbeda dibandingkan dengan Gimp, selain Krita memiliki fitur yang lebih solid dan lengkap, juga tampilan Krita dibuat menyerupai Photoshop, mungkin dilakukan agar pengguna photoshop lebih nyaman ketika memakai Krita, selain itu Krita sudah support format file photoshop dan juga sudah support CMYK yang sangat penting jika kita ingin mencetak hasil karya digital kita.

butterfly_shout_by_ico_dy-d53me1n

Butterfly Shot by Enrico

 

Barusan Krita merilis versi terbarunya dengan berbagai fitur-fitur yang sangat luarbiasa, namun karena saya belum sempat menguasainya, terutama karena sampai saat ini saya masih belum terbiasa dengan interface dan keyboard shortcut di Krita (yang sebenarnya dapat diubah settingnya, namun saya belum lakukan hal itu) maka saya hanya mencoba beberapa fitur yang menarik bagi saya, terutama brushes set yang sangat luarbiasa itu

Testing Krita's Brushes

Testing Krita’s Brushes

Jadi ada beberapa keluhan tentang Krita yang lambat dan sering lagging, maka kita perlu ingat bahwa Krita adalah software open source, dan setiap software open source saling terintegrasi satu sama lainnya karena mereka berasal dari komunitas yang memilki spirit yang sama, maka jika ingin menggunakan Krita secara optimal, gunakan dengan Operating System yang berasal dari Open Source juga, rekomendasi saya adalah distro Ubuntu dan Linux Mint yang telah terbukti paling baik untuk mengoperasikan Krita.

Salah satu fitur yang sudah lama saya ingin gunakan adalah “Colorize” dari Plugin G’MIC yang sudah terinstall pada Krita veri terbaru ini, filter ini sangat luarbiasa karena dapat memberi warna dasar dari sketsa digital, bagi yang sudah pernah membuat karya digital pasti tahu bahwa memberikan warna dasar (basic coloring) cukup menyita waktu, dan dengan adanya fitur ini maka kita dapat menghemat waktu yang digunakan untuk memberikan warna dasar itu

Screenshot from Colorize filter from G'MIC Plugin in Krita

Screenshot from Colorize filter from G’MIC Plugin in Krita

Setelah mencoba fitur Colorize itu, saya tentunya akan terus mencoba menggunakannya karena manfaatnya sangat berguna bagi saya, tentunya saya tidak akan menjelaskan detail cara penggunaan fitur ini, karena dibawah akan saya cantumkan link-link yang berhubungan dengan fitur ini

Pada tahapan ini, pertama saya membuat sketsa awal, kemudian memberikan warna dasar dengan fitur “Colorize” dan terakhir memberikan shading dan details

Gmic_colorize_try4

dan ini adalah hasil akhirnya, namun saya belum sempat memberikan detail lebih baik lagi karena tujuan dari pembuatan gambar ini hanya untuk mencoba fitur Colorize saja

Dan ini adalah hasil akhirnya

Gmic_colorize_finale

kesimpulannya adalah Krita sangat baik untuk digunakan bagi para penggemar digital painting, karena fitur-fiturnya yang luarbiasa dan tampilannya yang menyerupai Photoshop, hingga Krita boleh dikatakan lebih menarik bagi pada pengguna photoshop yang tidak terbiasa dengan tampilan Gimp yang terlalu sederhana itu, tentunya masih ada beberapa kekurangan Krita namun jika melihat dari komunitas developer Krita yang sangat progresif ini maka bisa diasumsikan bahwa Krita akan memiliki masa depan yang cerah dibandingkan dengan software-software open source lainnya

Sumber :

www.krita.org

tutorial G’MIC Colorize by David Revoy

Salman of Persian

22 Mar

“I am SALMAN, The son of ISLAM, from the children of ADAM”

When the light of truth is in the heart, eventually it will search for the purest truth,

Salman Al-Farisi, is one of the most well-known companions of Prophet Muhammad pbuh, his most famous contribution during Islamic history was when he participated in Battle of Trench, which he suggested the unknown battle tactic : making trenches surrounding Yatsrib (Madinah) , so the enemy from Mekkah could not enter the city.

Who is Salman ? and why did he know that strange battle tactic which people in Arabia never knew about it ?

but before we begin the story of Salman, he was referred as “Abu Al Kitabayn” (The father of the two books, i.e., the Bible and the Quran) so Salman  was once a Christian before he converted to Islam.

and how did he have two religions ?

another background history during Salman early life : he was born in Persia, and during that time the Christians were massacre in Rome, by King Nero the Emperor of Rome, and some of the Christian refugees went to other countries and thus the remaining Christians lived across countries, one of them is Persian. and from the story of Salman’s life, he would encounter with those remaining Christians before he finally met with Rasulullah pbuh.

and here is the story of Salman, narrated by Salman himself :

“I grew up in the town of Isfahan in Persia in the village of Jayyan. My father was the Dihqan or chief of the village. He was the richest person there and had the biggest house.

Since I was a child my father loved me, more than he loved any other. As time went by his love for me became so strong and overpowering that he feared to lose me or have anything happen to me. So he kept me at home, a veritable prisoner, in the same way that young girls were kept.

I became devoted to the Magian religion so much so that I attained the position of custodian of the fire which we worshipped. My duty was to see that the flames of the fire remained burning and that it did not go out for a single hour, day or night.

My father had a vast estate which yielded an abundant supply of crops. He himself looked after the estate and the harvest. One day he was very busy with his duties as dihqan in the village and he said to me:

“My son, as you see, I am too busy to go out to the estate now. Go and look after matters there for me today.”

On my way to the estate, I passed a Christian church and the voices at prayer attracted my attention. I did not know anything about Christianity or about the followers of any other religion throughout the time my father kept me in the house away from people. When I heard the voices of the Christians I entered the church to see what they were doing.

I was impressed by their manner of praying and felt drawn to their religion. “By God,” I said, “this is better than ours. I shall not leave them until the sun sets.”

I asked and was told that the Christian religion originated in Ash-Sham (Greater Syria). I did not go to my father’s estate that day and at night, I returned home. My father met me and asked what I had done. I told him about my meeting with the Christians and how I was impressed by their religion. He was dismayed and said:

“My son, there is nothing good in that religion. Your religion and the religion of your forefathers is better.”

“No, their religion is better than ours,” I insisted.

My father became upset and afraid that I would leave our religion. So he kept me locked up in the house and put a chain on my feet. I managed however to send a message to the Christians asking them to inform me of any caravan going to Syria. Before long they got in touch with me and told me that a caravan was headed for Syria. I managed to unfetter myself and in disguise accompanied the caravan to Syria. There, I asked who was the leading person in the Christian religion and was directed to the bishop of the church. I went up to him and said:

“I want to become a Christian and would like to attach myself to your service, learn from you and pray with you.”

The bishop agreed and I entered the church in his service. I continued in the service of the person who replaced him after his death. The new bishop was an ascetic who longed for the Hereafter and engaged in worship day and night. I was greatly devoted to him and spent a long time in his company.

(After the death of the second Bishop, Salman attached himself to various Christian religious figures, in Mosul, Nisibis and elsewhere. The last Bishop had told him that no one else he knew that following this religion of Christianity was still alive but he predicted about the appearance of a Prophet in the land of the Arabs was already near.

So the last Bishop told the three signs of  The Last Prophet : He would come from the city of palm (dates) grove, He who would accept a gift but would never consume charity (sadaqah) for himself. and the last was He who had the sign of Prophethood in his back

So Salman tried to go to Arab :

A group of Arab leaders passed through and I asked them to take me with them to the land of the Arabs but they broke their agreement and sold me as a slave to a Jew. I worked as slave to the tribe of Banu Qurayzah. This Jew took me with him to Yathrib, the city of palm groves

At that time the Prophet was inviting his people in Mekkah to Islam but I did not hear anything about him because of the harsh duties of slavery upon me.

When the Prophet reached Yathrib after his hijrah from Mekkah, I was in fact at the top of a palm tree belonging to my master doing some work. My master was sitting under the tree. A nephew of his came up and said:

“By God, they are now gathering to meet a man who has today come from Mekkah and who claims he is a Prophet!”

I felt hot flushes as soon as I heard these words and I began to shiver so violently that I was afraid that I might fall on my master. I quickly got down from the tree and spoke to my master’s nephew. “What did you say? Repeat the news for me!”

My master was very angry and gave me a terrible blow. “What does this matter to you? Go back to what you were doing,” he shouted.

That evening, I took some dates that I went to the place where the Prophet had stayed. I went up to him and said:

“I have heard that you are a righteous man and that you have companions with you who are strangers and are in need. Here is something from me as sadaqah. I see that you are more deserving of it than others.”

The Prophet ordered his companions to eat but he himself did not eat of it.

I gathered some more dates and I went to him and said: “I noticed that you did not eat of the sadaqah I gave. This however is a gift for you.”

Of this gift of dates, both he and his companions ate.

I felt excited, and began to search for the last sign of the Prophethood in Muhammad’s back, and without asking, Muhammad showed his back to Salman….

and Lo and Behold, there was the sign of Prophethood in his back !

I fell down and cried in joyful tears, after years of searching for the true religion, and traveling across so many countries, I finally met the Prophet Muhammad.”

===================================================

Salman was released from slavery by the Prophet. After accepting Islam, Salman would say when asked whose son he was : “I am Salman, the son of Islam from the children of Adam.”

Salman was to play an important role in the struggles of the growing Muslim state. At the Battle of Khandaq (Trench), he proved to be an innovator in military strategy. He suggested digging a ditch or khandaq around Madinah to keep the Quraysh army at bay.

When Abu Sufyan, the leader of the Mekkans, saw the ditch, he said, “This strategy has not been employed by the Arabs before !”

Salman became known as “Salman the Good”. He was a scholar who lived a rough and ascetic life. He had one cloak which he wore and on which he slept. He would not seek the shelter of a roof but stayed under a tree or against a wall.

Later, after the death of Rasulullah, Salman became a Govenor of al-Mada’in (Ctesiphon) near Baghdad,

As a Governor and leader, Salman received a salary of five thousand dirhams. all of his salary he gave as sadaqah. He lived from the work of his own hands. When some people came to Mada’in and saw him working in the palm groves, they said, “You are the amir (leader) here and your sustenance is guaranteed and you do this work ?!”

“I like to eat from the work of my own hands,” Salman calmly replied.

As a scholar, Salman was noted for his vast knowledge and wisdom. Ali bin Abi Thalib said of him that he was like Luqman the Wise. And Ka’b al-Ahbar said: “Salman is stuffed with knowledge and wisdom of ocean that does not dry up.”

Salman had a knowledge of both the Christian scriptures and the Qur’an in addition to his earlier knowledge of the Zoroastrian religion.

Salman in fact translated parts of the Qur’an into Persian during the life-time of the Prophet. He was thus the first person to translate the Qur’an into a foreign language.

Salman, born in a rich Persian family but searching for the truth led him to leave his comfortable life and even to suffer as a slave.

According to the most reliable account, he died in the year thirty five after the hijrah, during the caliphate of Uthman, at Ctesiphon.

from the story of Salman we could learn :

  • sometimes you must leave your own country if there are no other people with same religion
  • it is better to be alone in the truth rather than in a crowd with false belief

“Salman is neither Muhajir nor Anshar. He is one of us. He is one of the People of the House” (Hadist)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 911 other followers