Efek Garis Linear Abstrak dengan Inkscape

Sudah lama saya tidak membuat tutorial tentang Inkscape, berikut adalah tutorial sederhana dengan menggunakan fitur Path untuk membuat efek garis abstrak yang keren yang dapat digunakan untuk berbagai desain seperti banner atau lainnya ;

Path_Lines

Pertama, setelah membuka inkscape, pilih Bezier Curves Tool, dan buat tiga titik seperti berikut ini, setelah selesai klik Enter ;

Screenshot from 2015-08-14 10:22:49

Pilih Edit Path by Nodes Tool, select semua nodes dengan menahan Shift dan klik pada ketiga nodes itu, kemudian pada bagian atas toolbox pilih “Autosmooth” untuk membuat kurva yang melengkung ;

Screenshot from 2015-08-14 10:23:39

Buat duplikat dari garis kurva ini dengan Ctrl + D, kemudian geser ke sebelah kanan seperti berikut ;

Screenshot from 2015-08-14 10:24:31

Select kedua kurva itu, pada menu pilih Path – Combine ,

Path-Combine

kemudian Path – Path Effect untuk membuka Path editor

Path_effect_editor

Pada drop-down menu atau pada tombol “+” pilih Stich Sub-Path effect,

Path_effect_stich

Pada Number of Paths , ubah jumlah garis menjadi 30 atau 50, kemudian klik pada Stich Path ; Edit on-canvas untuk mengaktifkan nodes pada Path agar kita dapat mengubah bentuk kurva pada garis tersebut ;

Path_editoncanvas

Ubah bentuk kurva garis sesuai dengan yang diinginkan dengan menarik kedua nodes :

Path_editpathnodes

Jika telah selesai mengedit bentuk garis, pada menu pilih Path – Object to Path

Path_objecttoPath

dan Path – Stroke to Path

Path_strokePath

Pilih Arrow Tool (Select Tool) untuk menseleksi garis kurva tersebut, Garis yang telah selesai dapat diberikan efek gradient warna dengan menggunakan Gradient Tool

path_gradient

Dan kurva abstrak telah selesai ! demikian tutorial sederhana ini, semoga bermanfaat ^^

Photo editing with Gimp

photoediting1

Saat ini sudah banyak aplikasi untuk mengedit foto secara instant, memang aplikasi itu memudahkan kita untuk mendapatkan gambar yang menarik, namun pilihan saya tetap menggunakan Gimp untuk mengedit gambar, dan berikut beberapa hal yang sudah biasa saya lakukan dengan Gimp ;

Crop Tool

Fungsi dari Crop Tool bukan sekedar menghilangkan bagian dari gambar yang tidak diinginkan, tapi juga untuk memberikan posisi gambar yang lebih menarik dan proporsional, pada fitur Crop Tool terdapat pilihan bantuan “Garis Bantu” atau “Guide Lines”, dari sekian banyak pilihan tersebut, saya tetap berpatokan pada “Rule of The Thirds” yang merupakan konsep sederhana namun tetap powerful

1_guide_croptool

 

 

8_guide_croptool

 

 

Curves Tool

Ada banyak pilihan untuk memanipulasi warna pada Gimp, dan pilihan favorit saya adalah Curves Tool, mengapa ? karena Curves Tool sangat mudah digunakan dan memberikan hasil yang luarbiasa. Curves Tool terdapat pada : Menu – Colors – Curves , metode yang sering saya lakukan adalah membentuk kurva “S” pada Curves Tool untuk memberikan gambar yang lebih tajam dan kontras :

9_curvesS

 

Namun setelah mempelajari fungsi dari Curves Tool ini, terdapat tiga Channel : Red, Green dan Blue, maka cara paling sederhana untuk mengubah warna pada gambar adalah dengan mengubah kurva pada masing-masing channel tersebut, kita akan memulai pada gambar yang belum diedit berikut ini :

2_noneditpic

Buka Curves Tool, ubah ke channel Red, dan ubah kurvanya menjadi bentuk “S”

4_redcurve

ubah ke channel Green dan ubah kurva menjadi bentuk “S” yang agak lebih kecil dari ukuran kurva channel Red.

5_greencurve

ubah ke channel Blue, dan ubah kurva menjadi bentuk “S” terbalik

6_bluecurve

ubah ke channel Value, dan turunkan kurva sedikit ke bawah

7_valuecurve

 

dan berikut adalah hasil akhirnya :

3_editpic

 

Hasil akhir ini memiliki warna yang lebih hangat dan bernuansa, cara modifikasi channel warna ini bisa berbeda-beda, tergantung pada kondisi awal foto, namun prinsip yang harus diingat adalah : Jangan berlebihan, karena terlalu banyak modifikasi warna akan membuat gambar menjadi tidak wajar.

berikut beberapa hasil editing gambar dengan menggunakan metode yang sama :

photoediting6

 

photoediting3

Demikianlah tutorial sederhana tentang editing foto, semoga bermanfaat ! ;)

sumber : http://docs.gimp.org/2.8/en/gimp-tool-curves.html

Gimp Book for Kids

Alhamdulillah,

 

akhirnya saya berhasil menulis kembali ebook terbaru : Belajar Gimp untuk anak-anak

cover

 

Dengan Fossy si Kucing Linux sebagai instrukturnya :)

fossy3

Ebook ini ditujukan untuk anak-anak diusia dini (sekitar 4 tahun) dengan dilengkapi latihan-latihan yang dapat diprint,

Instruksi di dalam ebook ini segaja saya buat dengan sangat sederhana karena memang ditujukan untuk anak-anak diusia dini, dan tentunya hanya beberapa fungsi dari Gimp yang saya gunakan dalam ebook ini,

contoh latihan :

latihan3_1

 

Demikian ebook ini saya sampaikan,

dan tentunya saya akan mempersiapkan ebook-ebook lain yang ditujukan untuk memperkenalkan software free and open source kepada anak-anak :D

(untuk latihan, dapat diunduh dengan cara klik  pada gambar di galery, klik mouse kanan dan save image)

Selamat mengunduh ! :)

Gimp_for_kids

 

Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)

 

 

 

 

Abraham Lincoln, President terbaik yang pernah ada

“Don’t complain about the snow on your neighbor’s roof, when your own doorstep is unclean.” – Confucius

dari sekian banyak President Amerika, hanya Abraham Lincoln yang paling banyak dituliskan biografinya, bahkan sampai saat ini para politikus masih merujuk pada kebijakannya, bahkan saat Roosevelt setiap dirudung masalah pelik senantiasa ia memandang lukisan Lincoln dan berkata : “What would Lincoln do if he were in my shoes? How would he solve this problem?”. Memang Lincoln bukan sosok yang sempurna, namun tentunya ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari tokoh ini.

Pada saat Lincoln wafat, sahabatnya seorang senator berkata : “There lies the most perfect ruler of men that the world has ever seen.”

Bagaimana Lincoln bisa menjadi the most perfect ruler ever ? apa rahasianya ?

Pada masa mudanya, Lincoln adalah seorang pengacara yang jenius, salah satu hobinya adalah menulis tentang hal yang berhubungan dengan politik, dan pada saat itu satu-satunya media adalah surat kabar, dan sering Lincoln menulis opininya tentang politik dengan menggunakan nama samaran (seperti yang kita lakukan sekarang dengan menggunakan akun anonymous di sosial media)

Namun salah satu artikelnya menuai dampak yang buruk

Lincoln menulis artikel tentang kritikannya pada salah seorang politikus dengan menggunakan bahasa yang memperolok-olok si politikus itu, seluruh warga menertawakan politikus itu setelah artikel tersebut menjadi hits. tentunya politikus itu sangat marah dan akhirnya menemukan fakta bahwa Lincoln yang menulis artikel hinaan tersebut, hingga akhirnya dia menantang Lincoln untuk duel satu lawan satu (suatu hal yang biasa terjadi pada saat itu untuk menyelesaikan permasalahan)

Pada hari yang sudah ditetapkan, Lincoln datang ke tempat duel dengan politikus itu, hampir saja mereka mulai duel maut itu jika keluarga mereka tidak menghentikannya,

dan mulai hari itu Lincoln bersumpah bahwa ia tidak akan pernah lagi menghina, mengkritik atau menghakimi siapapun

“Judge not, that Ye be not judged.”

“Don’t criticize them; they are just what we would be under similar circumstances.”

Battle of Gettysburg, salah satu perang American Civil War, Jendral Meade yang memimpin perang itu melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Lincoln, bahkan ia mengabaikan perintah Lincoln. dalam amarahnya, Lincoln berkata kepada bawahannya : ” If I had gone up there, I could have whipped him by myself !!”

Lincoln menulis sebuah surat yang berisikan tentang kegusaran dan kekecewannya kepada Jendral Meade, dan apakah yang terjadi ? Meade tidak pernah melihat surat itu…..

Lincoln tidak pernah mengirimkan surat itu, dan surat itu ditemukan dalam mejanya setelah ia wafat.

dalam kehidupannya, cobaan terberat Lincoln adalah dari perkawinannya sendiri,

sahabatnya berkata setelah Lincoln wafat, bahwa yang membunuh Lincoln bukanlah penembak itu, namun perkawinannya yang telah mematikannya selama puluhan tahun.

Lincoln menikah dengan dengan seorang wanita yang tidak pernah berhenti mengkritik dan mencelanya, seorang wanita yang memiliki karakter yang berbeda dengan Lincoln ; jika Lincoln tidak pernah menkritik apapun maka istrinya selalu mengkritik semuanya, termasuk suaminya sendiri.

pernah pada suatu hari Lincoln disirami mukanya oleh air teh panas oleh istrinya dihadapan tamunya akibat hal yang sepele…..dan apa reaksi Lincoln ? ia diam saja dan tidak berkata apapun atas penghinaan itu

“the bitter harvest of Conjugal Infelicity”

suara amarah lengkingan istrinya dapat terdengar dari kejauhan, siapapun yang telah mengenal Lincoln dan istrinya pastinya tahu bagaimana buruknya perangai istrinya itu.

jadi mengapa Lincoln tidak membalas perilaku istrinya itu ? atau mengapa dia tidak meninggalkan istrinya itu saja ?

Banyak orang yang beranggapan bahwa lelaki yang tidak membalas perangai buruk istrinya itu adalah lelaki yang pengecut, lelaki yang takut pada istrinya, namun sebenarnya justru lelaki seperti Lincoln ini adalah lelaki yang tangguh dan sabar dalam menghadapi istrinya,

mereka inilah Real Gentlement yang sebenarnya

kita tidak tahu apa alasan Lincoln tetap bertahan dalam pernikahannya itu, mungkin dia melihat kebaikan lain dalam istrinya atau mungkin dia bertahan demi anak2nya, kita tidak tahu….

Hal ini mengingatkan saya pada satu kisah dari seorang Khalifah (kalau tidak salah dia adalah Umar bin Khattab) yang pernah kedapatan sedang diomeli oleh istrinya, mengapa dia tidak menceraikan istrinya itu ? padahal ia adalah seorang pemimpin besar, namun beliau menjawab bahwa istrinya itu telah memberikan banyak hal bagi kehidupan rumah tangganya.

Maka dapat saya simpulkan bahwa rahasia Abraham Lincoln dalam membina hubungan dengan semua orang adalah :

tidak pernah mengkritik, tidak pernah mencela, tidak pernah menghakimi dan selalu melihat segi positif pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun

“I will speak ill of no man…….and speak all the good I know of everybody.” – Benjamin Franklin

 

 

 

 

 

Bir non Alkohol, dan kesalahpahaman terhadap definisi Khamr

“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (HR. Muslim no.2003)

Sekitar akhir dasawarsa 90-an, saya pernah bepergian ke luarnegri untuk mengunjungi sanak keluarga yang sedang belajar di negri itu, dan karena penduduk negri itu (tentu saja) mayoritasnya adalah non-muslim, maka saya dari awal sudah berharap bisa mencicipi bir non-alkohol yang belum ada di negri saya pada saat itu

dan saya terkejut dan kagum pada komunitas pelajar di sana, mereka sangat hati-hati pada setiap makanan dan minuman yang mereka akan konsumsi, jika ada hal yang tidak jelas maka mereka akan meninggalkannya, terutama juga untuk bir non-alkohol yang mereka tidak minum karena menurut mereka itu tidak halal.

sifat tersebut adalah cermin dari kebaikan akidah para pelajar di negri itu, dan saya sangat kagum pada hal itu, karena mereka banyak mendapatkan tantangan untuk melakukan ritual ibadah-ibadah sehari-hari, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerapkan dan menjalankan ritual Islam di negri itu

maka saya pun pulang ke tanah air tanpa sempat mencicipi bir non-alkohol, tapi tidak mengapa karena saya mendapatkan ilmu tentang perbedaan antara bir dan alkohol yang saya pegang teguh sampai hari ini.

lalu munculah minuman bir non-alkohol sekitar pertengahan dasawarsa 2000, dan saya cukup kaget dengan pemahaman orang disini yang menganggap bahwa bir itu halal asalkan tidak ada alkoholnya, padahal bukan masalah ada alkohol atau tidak, intinya adalah apakah itu memabukkan atau tidak !

jika masalahnya terletak pada alkohol, maka banyak makanan lain yang mengandung kadar alkohol tinggi tapi tidak memabukkan seperti durian dan tapai, tapi hukumnya tetap halal karena sifatnya yang tidak memabukkan.

berangkat dari pemahaman itu, maka sampai saat ini saya tidak pernah mencoba meminum bir non-alkohol dan alhamdulillah saya memiliki perkerjaan yang sangat paham tentang hal itu, usaha kami di bidang retail ini walaupun mendapatkan banyak cobaan dan saingan yang cukup ketat, namun so far kami tidak pernah menjual bir, baik yang beralkohol maupun non-alkohol, dan juga kami tidak menjual rokok.

Beberapa hari yang lalu ada polemik tentang bir non-alkohol dan saya sangat sedih karena reaksi banyak orang yang justru mempertanyakan hal itu bahkan ada juga yang mengejeknya tanpa mencoba mencaritahu tentang dalil asal-muasal bir non-alkohol hukumnya adalah haram,

Tapi itulah cerminan dari kondisi umat saat ini yang sedang lemah akidahnya, dan pada umat yang lemah akidahnya maka hukum fiqih tentunya akan sulit untuk dijalankan,

kemudian apa yang bisa kita perbuat ?

ada kewajiban pada setiap umat dalam kondisi ini : mempelajari agamanya

hari ini tidak sulit untuk mempelajari agama kita sendiri, sudah banyak fasilitas-fasilitas dimana saja, buku-buku dan majelis ilmu tersebar dimana-mana, bahkan di zaman digital ini kita bisa 24 jam mengakses ilmu-ilmu itu.

dan jika kita telah mendapatkan ilmu itu, maka tunaikanlah hak dari ilmu tersebut : menyebarkannya kepada yang lain, dimulai dari yang paling dekat dengan kita yaitu keluarga kita sendiri.

agar kita dapat menjadi cahaya bagi diri kita sendiri dan cahaya bagi yang lainnya.

Wallahu A’lam bishowab

 

referensi :

http://www.konsultasisyariah.com/bir-haram/

http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/382-hukum-mengkonsumsi-obat-makanan-dan-minuman-yang-mengandung-alkohol

http://rumaysho.com/umum/salah-kaprah-dengan-alkohol-dan-khomr-812.html

 

Menangani tuduhan dusta, pelajaran dari fitnah terhadap Aisyah r.a.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR Thirmidzi)

Dalam mempelajari sejarah hidup Rasulullah, selalu saja ada bagian-bagian dari kisahnya yang dapat dijadikan teladan, terutama kisah kehidupan rumahtangganya, salah satu cobaan terberat dalam kehidupan rumahtangga Rasulullah adalah ketika mendapatkan cobaan fitnah dari kaum munafiq terhadap istri kesayangannya, Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Siti Aisyah adalah istri nabi yang termuda dan tercantik, kedudukannya istimewa karena ia adalah anak dari sahabat terdekat Rasulullah yaitu Abu Bakar.

Kisah ini diriwayatkan sendiri oleh Aisyah, yang terjadi setelah Rasulullah dan rombongan kaum muslim pulang dari sebuah ekspedisi kecil, dimana Aisyah pun ikut serta,

Ketika telah dekat dengan Madinah, maka beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai, aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging” : perhatikan bagaimana bijaknya Aisyah r.a. menjelaskan mengapa rombongan itu meninggalkannya, bukannya dia menyalahkan mereka karena kecerobohannya, tapi dia memahami bahwa kesalahan itu biasa saja terjadi ! mungkin kalau wanita biasa pasti sudah marah dan menyalahkan orang lain.

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihatku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menunggangi ontanya. sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari.

“Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

Pada saat ini tuduhan fitnah telah menyebar ke seluruh kota Madinah, namun apa yang Rasulullah lakukan ? apa dia langsung melabrak istri seketika mendengar tuduhan itu ? tidak, yang justru beliau lakukan adalah berdiam diri dan bahkan ia melindungi istrinya dari mendengar tuduhan itu ! walaupun beliau sendiri tidak tahu apakan fitnah itu benar atau tidak, karena ia sendiripun tidak bisa membuktikannya.

Akhirnya Aisyah mendengar juga fitnah terhadap dirinya dari pembantunya yang keceplosan, dalam panik dan kebingungan, ia minta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya, ibunya mencoba untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa sudah biasa seorang istri yang cantik akan mendapatkan cobaan seperti itu.

“Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini !’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali”

Ini mungkin adalah bagian yang paling memilukan, saat Aisyah menemukan kenyataannya bahwa fitnah itu telah tersebar dan sementara ia tidak dapat melakukan apapun, hingga akhirnya ia hanya dapat menangisi nasibnya

Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya bersabda kepada kaum muslim :  ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

Tuduhan fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik dan antek-anteknya sejatikan bukan ditujukan untuk Aisyah, namun untuk menghina Rasulullah secara tidak langsung, karena jika ada aib dalam keluarga Rasulullah maka semua orang akan berpikir bahwa Rasulullah tidak becus mendidik keluarganya sendiri, maka fitnah keji ini secara tidak langsung mencoreng muka Rasulullah

Rasulullah pergi ke rumah Abu Bakar masuk kemudian duduk. pada saat beliau duduk seraya berkata kepada Aisyah : ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

Adakah suami yang dapat berkata seperti itu kepada istrinya yang sedang mendapat tuduhan yang keji ? seorang suami normal akan dengan emosinya menunjukkan kekecewaannya dan kemarahannya pada istrinya dan pastinya akan berkata : “Keterlalulan sekali kelakukanmu ini ! apa kamu tidak pikirkan bagaimana martabatku dan kehormatanku dihadapan orang banyak ?”

tidak, tapi Rasulullah justru menjelaskan dengan sabar kepada istrinya bahwa jika ia suci dan tidak bersalah maka istrinya akan dibersihkan dari tuduhan itu, namun jika ia melakukannya maka ia menganjurkan istrinya untuk bertaubat…….

Aisyah pun melanjutkan ceritanya,

Ketika mendengar itu seketika itu pula keringlah air mataku, aku berpaling kepada kedua orang tuaku namun mereka diam saja, “Jawablah wahai ayah dan bunda perkataan Rasulullah itu !” mereka berkata “Demi Allah, kami tidak tahu apa yang harus kami jawab !

Abu Bakar dan istrinya kebingungan, ini anaknya sedang dirundung masalah pelik sementara mantunya adalah Rasulullah sendiri, mereka tidak tahu siapa yang harus mereka bela.

Maka Aisyah membela dirinya sendiri : “Demi Allah saya lebih mengetahui dan Allah lebih mengetahui bahwa saya tidak bersalah, namun ayah bunda dan kakanda tidak percaya !”

Kemudian Aisyah mengucapkan sebait ayat dari surat Yusuf, ketika Ya’qub kehilangan putranya :

“Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

Aisyah melanjutkan,

“Demi Allah, Rasulullah belum sempat beranjak dari tempat duduknya sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

“Rasulullah tersenyum bahagia setelah menerima wahyu itu. Kalimat yang pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

Maka dari kejadian ini ada beberapa poin penting yang perlu kita pahami :

  • Bukanlah sifat seorang muslim untuk menyebarluaskan berita yang tidak dapat ditelusuri kebenarannya, maka  jika kita menemui berita2 yang seperti itu baiknya kita diamkan saja untuk menghindari terjadinya fitnah
  • Rasulullah sebagai figur suami yang baik telah sangat bijak menangani hal ini, terutama cara beliau menahan isu fitnah agar tidak sampai terdengar oleh istrinya sendiri, juga bagaimana cara beliau menanyakan perihal itu kepada istrinya dengan cara yang paling santun
  • Aisyah sendiri walaupun saat itu masih sangat muda (mungkin sekitar 14 atau 15 tahun) namun sudah cukup dewasa dalam bersikap, terutama dalam menghadapi cobaan yang sangat berat ini

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

jika akhlak yang mulia itu telah tercapai maka yang pertama-tama akan merasakan manfaatnya adalah keluarga terdekat kita, terutama pasangan dan orang tua kita.