Khawla Binti Al-Azwar, a fierceful female warrior in Islamic History

14 Sep

“Khalid bin Walid watched a knight in black attire, with a big green shawl wrapped around his waist and covering his bust. That mysterious knight broke through the Roman ranks as an arrow. Khalid and the others followed him and joined battle, while the leader was wondering about the identity of the unknown knight.” 

Khawlah bint al-Azwar (Arabic خولة بنت الأزور) was a prominent woman during the life of the Islamic prophet Muhammad. Khawlah was a Muslim Arab warrior, sister of Zirrar ibn Azwar, the legendary Muslim soldier and commander of the Rashidun army during the 7th century Muslim conquest. Born sometime in the seventh century, Khawlah was well known for her leadership in battles of the Muslim conquests in parts of what are today Syria, Jordan, and Palestine.

Khawlah was the daughter of one of the chiefs of Bani Assad tribe. She fought side by side with her brother Zirrar in many battles, including a decisive Battle of Yarmouk in 636 against the Byzantine empire. Her family was among the first converts to Islam. Her father’s name was either Malik or Tareq Bin Awse; he was also known as al-Azwar.

Her combat talent first appeared during the Battle of Saniyat al Uqab in 634, fought during the Siege of Damascus, in which her brother Zirrar was wounded and taken prisoner by the Byzantine army. Khalid bin Walid took his mobile guard to rescue him. Khawla accompanied the army and rushed on the Byzantine rearguard all alone. In her armor and typical loose dress of Arabian warriors she was not recognized as a woman

“This warrior fights like Khalid bin Walid, but I am sure he is not Khalid.”

Her own brother asked about her identity when she approached him and refused to remove her veil several times, until she finally revealed herself as his sister.

once she revealed herself as a woman, Khalid bin Walid told her that while she may have started the battle standing with the women, now she was going to fight like a man. From that point on, she continued to serve throughout the campaign, battling on horseback with sword and spear in battles across Palestine, Syria and Jordan.

In a different battle, Khawla bint Azwar was captured after falling from her horse. She was forcibly moved to a camp with other female prisoners , after which she was to be taken to the leader of the enemy army for pleasure (read: rape), but she encouraged the other women to use the poles of the tent as weapons and attacked the guards.

They killed THIRTY of the Romans; Khawla herself killed five—including the leader who had wanted to rape her, the leader attempted to sway them with promises, including telling Khawla that he would marry her and make her first lady of Damascus, to which she replied, “I would never accept you to be a shepherd of my camels ! How do you expect me to degrade myself and live with you? I swear that I’ll be the one to cut off your head for your insolence.” (And apparently she did.)

Khawla served the rest of the war, eventually married a powerful Arab prince, and is now remembered as one of the greatest female warriors in the Muslim world.

“Our women were much harsher than the Romans,” reported one of the knights who fought along side with Khawla’s women army during Battle of Yarmouk. “We felt that going back to fight and die was much easier than facing the fury of our women later on”.

Today, an Iraqi all-women military unit is named the Khawlah bint al-Azwar unit in Khawlah’s honor. In the United Arab Emirates, the first military college for women, Khawlah bint Al Azwar Training College, is also named for her. There are also several schools named after Khawlah bint al-Azwar

 

Perang Uhud (bagian 1) – munculnya Pahlawan Quraisy : Khalid bin Walid

7 Sep

Alih-alih menjadi Agama damai yang “memberikan pipi lain”, Islam memerangi Tirani dan Ketidakadilan

salah satu Perang dalam sejarah Islam yang diabadikan dalam Al-Quran adalah Perang Uhud yang terjadi setahun setelah Perang Badar di bukit Uhud, di dekat kota Madinah.

Perang Uhud secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Quran surat Ali-Imran 140 – 179

Setelah kekalahan di Badar, para pemimpin Quraisy yaitu Ikrimah, Shafwan dan Abu Sufyan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kaum muslim lagi, mereka berhasil menghimpun 3000 pasukan infanteri dan 200 kavaleri (berkuda), secara garis besar jumlah mereka lebih besar tiga kali lipat dibandingkan dengan Badar.

Berita penyerangan kaum Quraisy sampai ke Nabi SAW melalui surat dari pamannya, Al-Abbas yang masih tinggal di Mekah, Nabi SAW mengadakan rapat darurat dan memutuskan untuk berperang.

Jumlah pasukan muslim yang dikumpulkan pada awalnya sekitar 1000 orang infanteri dengan sedikit pasukan kavaleri, namun jumlah ini berkurang akibat hasutan Abdullah bin Ubay, si Munafiqun yang memprovokasi agar mereka tetap tinggal di Madinah saja.

Akhirnya pasukan muslim berangkat menuju bukit Uhud dengan 700 pasukan infanteri dan sekitar 50 pasukan kavaleri. riwayat lain menyebutkan pasukan muslim tidak memiliki pasukan kavaleri sama sekali.

Nabi SAW yang memahami kondisi pasukan muslim yang jumlahnya sangat tidak seimbang dibandingkan dengan musuh, memilih bukit Uhud sebagai medan perang dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena ada celah diantara bukit Uhud yang bisa mendesak pasukan musuh dan memperkuat serangan kaum muslim, juga Nabi SAW menempatkan pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang di atas bukit untuk melindungi kaum muslim yang berada dibawahnya.

Pesan Nabi SAW pada pasukan pemanah : Jangan tinggalkan posisi kalian dalam kondisi apapun! Lindungi punggung-punggung kami dengan panah-panah kalian! Jangan bantu kami sekalipun kami terbunuh! Dan jangan bergabung bersama kami sekalipun kami mendapat rampasan perang!  Dalam riwayat Bukhari : Jangan tinggalkan posisi kalian sekalipun kalian melihat burung-burung telah menyambar kami sampai datang utusanku kepada kalian

Perang dimulai dengan duel satu-lawan-satu, diantara yang tampil dalam duel adalah Hamzah, paman Nabi SAW, dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya mendapatkan kemenangan seperti yang pernah mereka berdua lakukan pada peran Badar.

Serangan pertama dari pasukan muslim mulai saat duel berakhir, berkat kejeniusan Nabi SAW mengatur posisi pasukannya dan penempatan pasukan pemanah dipuncak bukit memperkuat serangan, pasukan Quraisy pada momen ini tidak berdaya dan terpecah kucar-kacir dalam waktu yang singkat. mereka lari meninggalkan senjata dan baju zirahnya.

Dalam perang zaman medieval, perlu dipahami bahwa setiap orang memanggul beban yang cukup berat, diantaranya baju zirah dan pedang dan peralatan lainnya, maka mereka harus meninggalkannya jika mereka ingin pergi dari medan perang.

Senjata dan Baju Zirah merupakan harta rampasan perang yang paling berharga bagi bangsa arabia, karena mereka tidak bisa memproduksi sendiri persenjataan itu dan harus mengimportnya dari negara lain, maka saat kaum Quraisy lari meninggalkannya, kaum muslim mulai membuka baju zirahnya dan melemparkan pedangnya untuk mengumpulkan harta rampasan perang yang tergeletak di medan perang itu.

Salah satu yang ikut dalam pengumpulan harta perang itu adalah pasukan pemanah, padahal mereka tidak diperbolehkan meninggalkan posnya oleh Nabi SAW, Komando pasukan pemanah, Abdullah bin Jubair berteriak pada pasukannya yang pergi itu : “Lupakah kalian dengan wasiat Rasullulah ?”

Pada saat kaum muslim lengah dan menyangka mereka telah memenangkan peperangan, salah satu panglima muda dari Quraisy, Khalid bin Walid, menemukan celah diantara bukit Uhud, kemudian menghimpun pasukan Quraisy untuk menyerang kaum muslim yang sedang lengah itu.

Tidak ada satupun kaum muslim yang melihat pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid akan memberikan serangan baru ditengah-tengah kaum muslim yang lengah kecuali Nabi SAW yang tetap siaga memantau medan perang dari puncak bukit.

Khalid bin Walid, panglima muda yang jenius ini kelak akan menjadi mualaf dan akan menyandang gelar “Pedang Allah”, setelah wafatnya Nabi SAW dan dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab, Khalid bin Walid memimpin berbagai peperangan besar melawan Romawi dan Persia.

“kaum muslim harus menyalahkan diri mereka sendiri, mereka tidak disiplin di medan perang, Perang Uhud memiliki makna sendiri : membedakan muslim sejati dan pembelot Abdullah bin Ubay” – Karen Armstrong

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. – (Ali Imran Ayat: 165)

 

 

 

 

Perang Badar (bagian 2)

31 Aug

ada beberapa kisah penting dan menarik yang terjadi pada saat Perang Badar, mengingat perang ini adalah perang yang pertama dalam sejarah Islam tentunya memiliki pengaruh yang besar pada seluruh kehidupan di jazirah arabia.

Kisah Cinta Zainab binti Muhammad dan Abil Ash

Zainab adalah putri dari Nabi SAW dari pernikahannya dengan Khadijah, dan Zainab menikah dengan sepupunya, Abil Ash yang masih keponakan dari Khadijah. pernikahan ini terjadi sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, dan setelah Muhammad hijrah ke Madinah, Zainab masih bersama dengan suaminya yang masih menganut agama lama, sedangkan Zainab sudah masuk Islam.

perbedaan agama diantara mereka tidak menghilangkan rasa kasih sayang yang sudah terjalin, Abil Ash enggan memberikan Zainab kepada ayahnya karena mereka masih saling mencintai, “Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama.”

pada perang badar, Abil Ash tertangkap dan menjadi tawanan, Zainab kemudian mengumpulkan uang tembusan untuknya, salah satunya adalah kalung pemberian ibunya yang dulu adalah hadiah perkawinannya, saat Nabi SAW menerima tembusan itu dan memandang kalung milik Khadijah, wajahnya berubah sendu dan teringat akan mendiang istrinya, akhirnya Abil Ash dilepaskan tanpa tebusan, kalung itu diberikan kembali kepada Zainab, dan Nabi SAW berpesan agar Zainab dikembalikan kepadanya ke Madinah.

terjadi insiden saat Zainab diantar keluar kota Mekah, beberapa orang Quraish mencegatnya dan membuat untanya melompat hingga Zainab terjatuh dari untanya, kecelakaan ini menyebabkan Zainab yang saat itu sedang hamil mengalami keguguran dan menderita luka yang parah.

setelah kepergian Zainab, beberapa tahun kemudian Abil Ash diam-diam menyusul ke Madinah dan menyusup ke kota itu saat malam hari menemui istrinya, pada siang harinya Zainab mengumumkan bahwa Abil Ash dalam perlindungannya dan Abil Ash kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.

Asy-Sya’bi berkata : “Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian Abil Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara keduanya”

Zainab wafat tidak lama setelah itu karena luka yang dideritanya ketika terjatuh dari unta dulu, Nabi SAW pernah berkata “dia putri terbaikku “. Zainab adalah contoh kesetiaan seorang istri dan keikhlasan iman, suaminya Abil Ash berkata “Puteri Al-Amin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.”

Kisah Ukasyah bin Mihshan dan pedang Al-‘Aun

Salah satu pahlawan yang lahir di medan perang Badar ini adalah Ukasyah bin Mihshan bin Harsan Al-Asadi. saat ia bertempur, pedangnya pun patah. karena pasukan muslim berperang dengan kondisi yang serba kekurangan, mereka tidak membawa senjata cadangan

Ukasyah menghampiri Nabi SAW dan berkata “Ya Rasulullah, pedangku sudah patah”, Ukasyah sendiri paham bahwa satu-satunya opsinya adalah berperang dengan tangan kosong dan berharap bisa merebut pedang musuh.

Rasulullah SAW menghampiri Ukasyah sambil membawa sebuah ranting pohon, sambil bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Tanpa keraguan sedikitpun, Ukasyah mengambil ranting itu dan kembali ke medan perang, saat ia mengayunkan ranting pohon ke arah musuh, tiba-tiba ranting itupun berubah menjadi sebuah pedang yang panjang, kuat, mengkilat dan tajam. Ukasyah meneruskan pertempurannya dengan pedang barunya hingga Allah memberikan kemenangan pada umat Islam.

Pedang yang kemudian diberi nama “Al ‘Aun” menjadi senjata andalan Ukasyah dalam setiap pertempuran yang diikutinya, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Begitupun ketika Ukasyah menjemput syahidnya di Perang Riddah (pada masa khalifiyah Abu Bakar), pedang dari ranting pemberian Nabi SAW setia menemaninya.

Ukasyah bin Mihshan dikuburkan bersama pedangnya Al-‘Aun, Nabi SAW pernah mendoakannya akan masuk dalam golongan yang masuk ke surga tanpa dihisab dan berwajah indah seperti rembulan, dari kisah Ukasyah kita bisa memahami esensi dari keteguhan iman.

Kematian Umayyah bin Khalaf, mantan majikan Bilal bin Rabah

salah satu pemimpin Quraish yang ikut dalam perang badar adalah Umayyah bin Khalaf, dia adalah orang yang dulu sering menganggu Rasullulah dan umat Islam di Mekkah dan menyiksa budaknya, Bilal bin Rabah, hingga Bilal hampir saja mati jika tidak ditolong oleh Abu Bakar yang menghentikan Umayyah.

Setelah perang badar selesai dan Umayyah tertangkap oleh Abdu Amr yang sebelumnya sudah terikat dengan perjanjian agar melindungi Umayyah, saat Abdu Amr membawa Umayyah sebagai tawanannya, mereka melewati Bilal yang sangat terkejut melihat Umayyah, mantan majikannya itu.

Bilal, si Muadzin pertama dalam sejarah Islam itu, berteriak “Ini Umayyah bin Khalaf, si pemimpin Quraish ! saya tidak akan selamat jika dia selamat !”

beberapa orang Anshor langsung menghampir mereka, tentu saja mereka semua sudah mengetahui bagaimana kisah kebengisan Umayyah ketika dulu menyiksa Bilal, para Anshori itu kemudian mencoba membunuh Umayyah walaupun dicegah oleh Abdu Amr.

dan Umayyah pun terbunuh oleh para Anshor, jasadnya terbaring diatas tumpukan kerikil, sama seperti dulu ketika dia menyiksa Bilal dengan membaringkannya diatas tumpukan kerikil panas, dan pada saat kaum muslim mencoba mengangkat jasadnya untuk dikuburkan, tubuh Umayyah tidak dapat diangkat karena setiap kali mereka mencoba mengangkatnya, badan Umayyah hancur. akhirnya mereka membiarkan jasad Umayyah terbaring diatas kerikil.

Abdu Amr, yang kemudian dikenal sebagai Abdurrahman bin Auf, mengucapkan selamat kepada Bilal atas matinya Umayyah, walau dia terkena luka saat mencoba melindungi Umayyah dari serangan para Anshori. dan Abu Bakar pun juga memberikan selamat kepada Bilal atas kematian mantan majikannya itu disertai dengan doa dan pujian bagi Bilal.

Demikian beberapa kisah dari Perang Badar, semoga bermanfaat.

 

 

 

Unintelligent System

29 Aug

“Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”

pada awalnya banyak yang mengutip kalimat dari Ali bin Abi Thalib ini saat isu politik di negri ini sedang memanas, namun adalah sangat tidak bijak jika menggunakan kalimat yang memiliki makna yang luas ini pada kondisi ini.

kemudian saya ingat pada beberapa hal yang sudah terjadi belakangan ini, mengapa hal-hal yang menurut kita harusnya tidak digunakan lagi karena sudah terbukti gagal namun masih beredar dan digunakan dimana-mana ?

misalnya ideologi demokrasi dan sistem kapitalis, sudah banyak yang meramalkan bahwa kedua sistem ini akan segera berakhir namun sampai hari ini mereka masih berjaya, atau mengapa open source masih belum bisa mengungguli proprietary padahal sudah terbukti mereka lebih mumpuni dan lebih baik.

Complexity is about scale, unintelligent systems are supported with unintelligent units.

pada 1944, dibuatlah perjanjian Bretton Woods system yang pada intinya memperbolehkan uang kertas dicetak lebih banyak daripada cadangan emas yang tersedia, dan akibat dari sistem ini adalah krisis finansial yang terjadi berkali-kali dan turunnya nilai mata uang secara drastis.

atau contoh lainnya yang lebih aneh lagi yaitu skema ponzi yang sering terjadi dan menipu banyak orang namun mengapa masih saja banyak orang yang tertarik dan percaya pada skema penipuan ini.

kemudian saya teringat sekitar satu dekade lalu, saya mencoba mempelajari kapital market, dan saya ingin mencoba terjun kedalam dunia ini namun langsung ditolak oleh orang terdekat saya pada saat itu, saya tidak mempersoalkannya saat itu karena fokus saya tertuju pada hal yang lain, namun kemudian tawaran itu diajukan pada saudaranya dan dia malah langsung menolaknya.

menurut saya seharusnya orang itu tidak menolak tawaran yang menggiurkan itu, selain gaji yang cukup besar dan bonus akhir tahun yang lumayan, harusnya tidak ada alasan untuk mengabaikan tawaran kerja ini dengan alasan tidak suka dengan lingkungan pekerjaannya.

dan belakangan baru saya sadari bahwa keputusan saya untuk tidak mencoba pekerjaan itu dan tidak masuk dalam sistem itu adalah keputusan yang sangat tepat, saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya bisa bertahan dalam sistem itu tanpa tidak “bermain api”, ketika kita berada dalam sistem yang salah dan merugikan orang lain maka sangat tidak mungkin kita bisa bertahan menjadi orang baik.

jadi jawaban dari dua kutipan diatas adalah :

suatu sistem yang buruk dan salah akan selalu digunakan saat semua orang masih membutuhkannnya,

suatu sistem yang salah tersebut akan dikalahkan oleh sistem yang benar saat semua orang meninggalkan sistem yang salah itu dan beralih kepada kebenaran.

wallahu ‘alam bishowab

 

 

 

Perang Badar

24 Aug

“Selama bertahun-tahun Muhammad telah menjadi sasaran pencemoohan dan penghinaan; tetapi setelah keberhasilan yang hebat dan tak terduga itu (di Badar), semua orang di Arabia mau tak mau harus menanggapinya secara serius.”Karen Armstrong

Perang Badar merupakan perang pertama dalam sejarah Islam dimana kaum Muslim yang dipimpin oleh Nabi SAW berhadapan dengan kaum Quraish.

Perang ini adalah momen yang penting dalam sejarah Islam, karena selain merupakan perang pertama dan kejadian ini menjadi titik balik kondisi umat Islam saat itu

Muhammad SAW mendapat informasi bahwa akan ada rombongan terbesar dari Mekkah, ia mempersiapkan pasukan terbaiknya menuju kota Badar, kondisi pasukan muslim serba seadanya, banyak yang hanya membawa pedang tanpa baju zirah, banyak yang berjalan kaki karena jumlah kuda dan unta sangat sedikit, bahkan Nabi SAW sendiri pun membagi untanya dengan Ali bin Abi Thalib dan seorang lagi.

Sebelumnya Nabi SAW bertanya pada kaum Anshor (penduduk Madinah) bahwa mereka tidak diharuskan ikut berperang namun Sa’ad bin Ubadah, salah seorang pemimpin kaum Anshar, berkata “Seandainya engkau (Muhammad) membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.”

Maka Nabi SAW sendiri yang memimpin pasukan muslim yang berjumlah 300 orang berhadapan dengan pasukan Quraish yang dipimpin oleh Abu Jahal yang berjumlah 1000 orang.

Saat Nabi SAW telah sampai di dekat Badar, hal pertama yang dilakukannya mencari posisi paling strategis yang letaknya dekat dengan sumber air, dan merusak sumber air lainnya agar tidak dapat digunakan oleh musuh atas saran dari sahabat, Habab bin Munzir.

Pada malam harinya, Allah menurunkan rahmat-Nya atas kaum muslim dengan menurunkan hujan rintik2 yang membasahi perkemahan kaum muslim dan menidurkan seluruh pasukan muslim, sementara itu di perkemahan kaum Quraish diturunkan hujan lebat yang membuat kemah mereka basah dan tanah menjadi becek.

sementara itu Nabi SAW bermunajat, berdoa sepanjang malam kepada Rabb, memohon agar diberi kemenangan dipertempuran, diriwayatkan Nabi SAW pada malam itu tidak tidur karena terus berdoa kepada-Nya.

Pagi harinya, Perang diawali dengan duel tiga-lawan-tiga, perwakilan umat Islam adalah Ali bin Abi Thalib, Hamzah dan Ubaidah bin Harits, mereka berhasil menang dalam duel tersebut, Ali (yang pada saat itu masih berusia 20tahun) dan Hamzah dengan cepat berhasil membunuh lawannya, sementara Ubaidah menderita luka yang menyebabkannya wafat.

Nabi SAW mempersiapkan pasukan muslim berbaris untuk melancarkan serangan pertama, sebelumnya Nabi SAW menengadahkan kedua tangannya kelangit dan berdoa : Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam saat ini, maka tidak ada lagi yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini”. (HR. Muslim)

Nabi SAW terus bedoa dan berdoa hingga selendangnya jatuh, kemudian Abu Bakar mengambil selendang itu meletakkannya kembali dipundak Nabi SAW dan berkata “Cukup ya Rasulullah, Allah akan memenuhi janjinya”

Pada saat itu turunlah firman yang dibawa oleh Jibril bahwa Allah telah menurunkan bantuan-Nya (Al-Anfal : 9) saat itu juga Nabi segera mengambil pedang dan memasang baju zirahnya dan terjun ke medan perang sambil mengucapkan “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (al-Qamar 54 : 45)

Tidak pernah ada peperangan dimana pemimpinnya sendiri yang maju paling depan kecuali pada Perang Badar, Dalam riwayat lain diceritakan, “Ketika peperangan sudah berkecamuk, kami berlindung dengan Rasulullah . Beliau adalah orang yang paling menderita. Tidak ada seorang pun yang lebih dekat posisinya dengan musuh dibandingkan Rasulullah”

Muhammad bergantian melancarkan serangan dengan Abu Bakar yang tidak pernah pergi dari sisinya, bahkan Ali berkata :  “kami berlindung dengan Rasulullah. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan yang paling susah.”

Pertempuran berlangsung sekitar 3-4 jam, dimana kaum muslim yang wafat berjumlah 14 orang, sedangkan kaum quraish yang terbunuh berjumlah 70 orang dengan 70 orang tawanan.

Apa yang membuat kaum muslim bisa memenangkan pertempuran yang tidak seimbang ini ?

  1. Kedisiplinan dan keteguhan hati pada kaum muslim, juga kepatuhan mereka pada pemimpin mereka.
  2. Bantuan para malaikat dalam medan perang, banyak dari kaum muslim yang melihat sendiri saat mereka baru mengangkat pedangnya, musuh sudah terbunuh, pasukan malaikat yang diutus Allah ini telah menaikkan semangat tempur kaum muslim dan membuat bingung kaum quraish.
  3. Kejeniusan Nabi SAW yang menempatkan posisi kaum muslim di dekat sumber air, dan keberaniannya maju pada barisan paling depan di medan tempur.

Perang Badar adalah perang yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Quran : “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (Ali Imran 123)

 

 

 

 

 

 

Deadliest Sins

14 Aug

Muscles without Strength,

Friendship without Trust,

Opinion without Risk,

Change without Aesthetics,

Age without Values,

Food without Nourishment

Power without Fairness,

Facts without Rigor,

Degrees without Erudition,

Militarism without Fortitude,

Progress without Civilization,

Complication without Depth,

Fluency without Content,

 

by N.N. Taleb

 

addittion :

Knowledge without Wisdom,

Love without Devotion

The Paradoxical Commandments

7 Aug

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jealous.  be happy anyway.

 
You see, in the final analysis, it is between you and God.

it was never between you and them anyway

- Kent M. Keith

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 840 other followers